Those Two Words?

45 24 54
                                        

Kantin siang itu penuh sesak. Suara kursi bergeser beradu dengan lantai, denting sendok mengenai piring, dan gelak tawa yang pecah di sudut ruangan. Orang-orang berlalu-lalang tanpa henti. Ada yang berdiri sambil makan, berdesakan di antrean, ada pula yang sibuk bercerita dengan gerakan tangan yang berlebihan. Semuanya bergerak seolah dunia tidak pernah berhenti berputar.

Namun di tengah semua itu, seorang perempuan dengan rambut yang ia ikat ponytail duduk diam. Tangannya bertumpu di meja, jari-jarinya menyentuh gelas yang sudah lama ia anggurkan. Matanya kosong, menatap ke arah pintu kantin. Suara bising di sekitarnya seakan teredam.

Catharine saling melempar pandang ke arah Jennifer dan Zara. "Dia kenapa?" bisiknya, alisnya terangkat heran.

"El.."

Tidak ada respon.

Jennifer yang duduk di hadapan Elouise maju, mencondongkan badan sampai wajahnya hampir sejajar. Ia melambaikan tangan tepat di depan mata Elouise. "Halo, halo, El. Gue Jennifer, halo."

Fokusnya tak berubah.

"Anjir, ini kok serem ya," gumamnya sembari mundur perlahan.

Mereka mulai merasa panik. Apa cerita tentang sekolah yang bekas kuburan itu nyata? Dan sekarang Elouise sedang dirasuki penghuni di sini?

Catharine menjentikkan jarinya, ia berdiri menghampiri Elouise dan berdiri di belakangnya. Perlahan ia menunduk sedikit dan.. mencengkram leher Elouise.

"SADAR, PLEASE! SETAN JANGAN RASUKIN ELI, KELUAR!"

Elouise yang kaget setengah mati spontan menyentuh pergelangan tangan Catharine. "EH, GILA YA!"

Teriakan Elouise menarik perhatian sekitar. Beberapa kepala menoleh, obrolan terhenti, bahkan ada yang berdiri dari duduknya untuk melihat apa yang terjadi. Catharine mengangkat kedua tangannya depan dada, tersenyum canggung. "Hehe, latihan drama, biasalah. Yuk, dilanjut yuk, makannya."

Perempuan itu mengangkat jempolnya tanda aman selama berjalan kembali ke tempat duduknya. Ia tersenyum girang ketika Elouise menatap ke arahnya dengan wajah kesal.

"Lo kenapa, El? Bengong daritadi." Zara langsung bertanya. Ia tak memberi kesempatan kepada Elouise untuk memprotes kelakuan Catharine.

Elouise menghela napas beberapa kali. Ia mengangkat kedua tangan, memangku wajahnya. Berkedip cepat lalu tersenyum malu. "Guys.. gue baper.."

"APASIH!"

--------

"Ya, gimana? Gue baper banget sekarang."

Catharine menggeleng pelan, benar-benar tak habis pikir. Ia bahkan sudah kembali berdiri di samping Elouise dengan tangan berkacak pinggang. "Cuma karna dibilang 'good job'?"

Jennifer menyeka mulutnya setelah menghabiskan mie ayam kesukaannya. "Hadeh, gini nih anak muda. Dua kata bisa bikin hati dan pikiran berantakan. "

Elouise berdecak kesal. Jennifer sama sekali tidak membantu.

"Nih, ya, selama kita main, Kak Nathan itu yang paling jarang nimbrung. Kita udah mulai akrab sama yang lain kecuali dia." Elouise memelankan suaranya ketika menyebut nama laki-laki yang sejak kemarin mengacaukan dunianya. "Terus tiba-tiba bilang 'good job' padahal sebelumnya ngeblok bola gue terus sampe gue mau meledak rasanya."

"Arkan juga bilang 'nice' kalo bola gue masuk," sela Catharine.

"Tapi ini beda, Catharine! BEDA."

"Apa yang beda?"

Empat kepala itu serentak menoleh ke asal suara. Vano berdiri di sana, disusul Arkan, Jacob, Rei, Naren, dan sudah pastinya Nathan. Mereka berenam segera menempati meja yang baru saja kosong, tepat di sebelah meja empat perempuan itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 5 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A Year for UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang