16

42 17 6
                                        

"Bapak dipanggil Bapak Adiman ke ruangannya." Yongki mengestafetkan informasi yang baru saja dia dapat dari gagang yang telah dia letakkan kembali ke badan telepon.

Tobi bergumam karena matanya masih terpaku pada laptop di meja. "Any particular reason?"

"Mas Mahmud tadi tidak mengatakan apa alasannya, Pak."

"Oke."

Setelah menyelesaikan membaca laporan, Tobi bangkit dari kursinya. Dia tidak mau berlama-lama membiarkan perintah papinya terbengkalai. Seorang Adiman sangat menghargai waktu. Melalaikan perkataan Adiman apalagi mengabaikannya, uh, Tobi tidak mau memikirkan apa yang mungkin akan keluar dari bibir sang papi.

Saat Yongki sudah mengikuti Tobi sejauh dua langkah di belakang, Tobi berhenti dan membalik badannya. "Biar saya saja. Kamu persiapkan itinerary saya selama di Batam besok."

Yongki mengangguk kepalanya sekali. "Baik, Pak."

Selama lift naik menuju lantai Adiman, Tobi menggunakan waktunya untuk sibuk memikirkan mengapa maminya hingga detik ini tidak menghubunginya setelah peristiwa salah makan itu terjadi yang mengakibatkan dirinya terpaksa diseret Tatiana ke UGD. It's been three days since that day and her mom ... Tobi menghela napas lelah.

About Tatiana. Kalau dipikir-pikir, jika si bungsu tidak ngebut di jalan, mungkin dirinya sudah tidak ada lagi di kantor ini untuk menemui Adiman. Tobi mendengkus geli dibuatnya. Actually, she was doing the right thing.

Tahu-tahu dia sudah berada di depan pintu Adiman. Tobi telah tenggelam dalam pikirannya yang dalam.

Miranda, sekretaris pribadi Adiman membukakan pintu untuknya dan menyilakan dia masuk. Melewati Miranda di pangkal pintu, samar tercium parfum lembut nan mahal di udara hingga pintu di belakang terdengar menutup.

Chanel No. 5? Atau YSL? Tobi menerka-nerka dalam kepalanya. Pilihan bagus, puji Tobi untuk Miranda.

"Pi," sapa Tobi.

"Duduk dulu."

Tobi mengenyakkan diri di sofa kulit panjang berwarna coklat tua kepunyaan ruangan papinya, lalu mengambil majalah perusahaan, membolak-balikkan halamannya tanpa minat.

"Perizinan pabrik di Batam bagaimana, Mas?" tanya papinya yang masih kelihatan sibuk dengan berkas-berkas di atas meja kerja dengan kacamata baca bertengger di hidungnya.

"Sudah lolos AMDAL dan dinas lingkungan hidup di sana, Pi. Tim sedang mengurus perizinan ke BPOM untuk izin operasional pabrik. Targetku awal tahun depan kita bisa mulai."

Kedua alisnya hampir menyatu ketika sudut matanya menangkap sebuah casing lipstik terselip di sudut sofa. Dengan hati impulsif, Tobi mengambil tabung berwarna hitam berlogo C terbalik itu, membuka tutupnya untuk melihat isinya, lalu membaca tulisan di sisi bawah tube lipstik. Kebiasaan ini muncul jika lipstik Tatiana tertinggal di mobilnya.

"Rouge Coco, 124 Marie," gumam Tobi sangat pelan. "Merah. Fierce yet sexy. Warnanya mirip sekali dengan bibir-"

Adiman keluar dari meja kerjanya. Tangannya refleks memasukkan benda kecil itu ke kantong celana dan menyambut kedatangan Adiman yang duduk di sisi kanannya.

Kedua alis Tobi melengkung sempurna saat wangi mahal yang dia endus ketika melewati Miranda kembali memasuki rongga hidungnya.

"Alergimu bagaimana, Mas?"

Alergi?

He was about to die three days ago, and now he is asking about that? He could have called or texted. He even has Mahmud to do it for him! Instead, he wants his son to meet him at his office. What a great dad!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My New Addiction [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang