FRAGMEN 25 - "Rain Over Avalon"

38 11 0
                                        

Marriage Without
Love -

•••
FRAGMEN 25
"Rain Over Avalon"

Gedung Belmont Group berdiri menjulang di tengah kota seperti raksasa kaca yang menelan langit pagi. Cahaya matahari memantul di dinding-dinding transparannya menciptakan kilau dingin yang terlihat indah namun terasa jauh dari kata hangat sama seperti dunia di dalamnya.

Dunia yang dipenuhi ambisi.

Persaingan.

Dan manusia-manusia yang tersenyum sambil diam-diam saling menjatuhkan. Lift khusus divisi Strategic Planning terbuka perlahan dengan bunyi pelan.

Layla melangkah keluar sambil membawa map proyek Avalon Heights di dadanya. Suasana kantor sudah ramai meski jam kerja baru saja dimulai. Suara ketukan keyboard, langkah sepatu hak tinggi, serta percakapan formal bercampur menjadi satu seperti orkestra sibuk yang tak pernah benar-benar berhenti.

Namun pagi itu ada sedikit perubahan.

William, Head of Strategic Planning, berdiri di depan ruang briefing dengan tablet di tangannya. Pria tampan itu terkenal disiplin dan perfeksionis saat bekerja dan ramah saat diluar pekerjaan, tidak sekejam sebagian senior lain di divisi mereka.

Ruangan briefing dipenuhi staf dari beberapa tim proyek di layar besar terpampang beberapa nama proyek utama perusahaan.

Aurivelle Integrated Green District.

West Dominion Hill.

Dan Avalon Heights.

William membuka briefing pagi dengan suara tenang namun tegas.

"Mulai minggu ini pembagian fokus proyek akan sedikit berubah."

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Tim senior akan lebih banyak difokuskan pada Proyek Aurivelle."

Beberapa staf langsung terlihat tegang.

Seperti yang sudah diketahui Aurivelle bukan proyek biasa, proyek itu adalah jantung baru perusahaan. Nilainya terlalu besar. Tekanannya terlalu tinggi. Sedikit kesalahan saja bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam semalam. Apalagi dengan masalahnya saat ini yang tiada akhir membuat semua divisi kalang kabut karena proyek itu belum bisa dimulai.

"Sedangkan Avalon Heights akan tetap berjalan sesuai jadwal." William melanjutkan sambil melihat tabletnya. "Karena proyek itu sudah stabil, beberapa tanggung jawab lapangan akan dialihkan kepada staf junior untuk menambah pengalaman kerja."

Layla sedikit mengangkat kepala.

"Adrienne akan menjadi leader tim Avalon."

Seorang wanita berambut coklat gelap yang duduk di sisi kanan ruangan langsung menyilangkan tangan dengan ekspresi puas tipis. Adrienne terkenal kompeten... dan menyebalkan secara bersamaan. Senyumnya tajam seperti ujung pisau tipis yang dibungkus lipstik mahal.

"Anggota timnya," lanjut William, "Layla, Jonathan, Marissa, dan Clara."

Layla menarik napas pelan. Jonathan yang duduk tak jauh darinya hanya mengangkat alis kecil seolah berkata selamat datang di medan perang.

"Kerjakan dengan baik," tutup William singkat sebelum briefing akhirnya selesai.

Ruangan perlahan mulai ramai kembali, kursi-kursi bergeser. Suara langkah kaki memenuhi lantai. Namun bahkan sebelum Layla sempat benar-benar duduk tenang, suara heels Adrienne sudah terdengar mendekat seperti alarm bencana kecil yang tidak diundang.

Marriage Without Love (18+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang