Pelajaran yang terbaik
Adalah kegagalan, karena kegagalan
Lah yang membuat manusia untuk
Tidak melakukan kesalahan
Seperti itu lagi.
~alevandre lysandro valerio~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
waktu terus berjalan hingga jarum jam menunjukan pukul 10 malam, di ruangan tamu ada 3 orang laki laki yang duduk gelisah di sofa menunggu seseorang yang sedari tadi belum pulang pulang.
Bahkan teh yang di sediakan di meja sudah dingin tanpa di sentuh sama sekali, elio dan kael terus menatap pintu utama berharap ares cepat pulang ke mansion, sedangkan al menatap ponsel nya berharap ada nofikasi dari ares karena sedari tadi mereka berusaha menelepon ares tapi tidak satu pun terangkat.
Keheningan terus terjadi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka, hanya keheningan karena rasa khawatir mereka memenuhi isi pikiran mereka masing masing, bodyguard juga sudah di perintahkan untuk mencari ares tapi sampai sekarang belum ada kabar apa apa.
Tidak ada kata pemenang satu sama lain, namun al berusaha mencari kata yang tepat agar adik adik nya sedikit tenang, walau ia juga berusaha tenang agar pikiran nya tetap stabil ia tidak mau adik adik nya melihat trauma nya.
"Kalian makan dulu ya" ucap al membuka obrolan agar pikiran adik nya terlihat sedikit.
Elio dan kael menggelengkan kepala, mereka tetap menatap pintu utama tanpa menoleh sedikit pun ke arah al.
Al mengehela nafas lelah, ia sudah tidak tahu mau bicara apa lagi, sedangkan adik nya tetap fokus ke pintu tanpa mengalihkan sedikit pun, al pun terdiam kembali sambil terus tetap menelepon daddy ares berharap agar di angkat walau hanya sebentar saja, mereka hanya ingin tahu keadaan ares saja.
"Kalian tunggu di mansion abang akan ikut cari daddy"
"Tapi di luar hujan bang" cicit kael dan di anggukin juga oleh elio.
"Iya abang tahu tap-" ucapan al terhenti ketika pintu utama terbuka.
Ceklek.....
"Daddy pulang" ucap ares dengan pakaian masih basah akibat terlalu lama kena hujan, al, elio dan kael tersentak terkejut melihat penampilan daddy nya yang habis basah.
"Ya ampun dad" kaget al, tanpa membuang waktu al langsung mengambil handuk yang terletak di meja dan memberi ke ares, di terima baik oleh ares.
"Makasih son" ujar ares.
"Daddy kemana aja dari tadi? Kenapa gak bilang sama kita kalau pergi? Daddy okey kan? Gak ada luka atau apa kan sama daddy? Kok ponsel nya gak aktif sih? Kenapa baru pulang malam gini? Dan kenapa basah kuyup gini sih dad?". Tanya kael berurutan,bahkan ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir nya hingga ia keblablasan ngomong panjang lebar gini.
"Satu satu dong sayang, daddy baru pulang dari kantor tadi, maaf gak beritahu kalian dulu" balas ares sambil mengacak gemes rambut kael hingga berantakan.
"Bohong, tadi kita telpon om andi tanya daddy ada di kantor atau enggak tapi om andi bilang gak ada" sahut elio.
"Kantor daddy bukan cuma satu di kota ini" jawab santai ares.
KAMU SEDANG MEMBACA
valerio
Non-Fictiongak ada deskripsi cuss langsung baca aja . . . . . . . jangan ada yang plagiat cerita aku susah loh mikir ide cerita ini, dan jangan lupa vote, komen and follow.
