Pure story from my mind‼️
Menceritakan seorang gadis yang terpaksa menjaga seorang anak laki-laki karena kedua orang tuanya meninggal akibat tragedi kecelakaan yang janggal.
"Nak tolong jaga anak saya, besarkan dia dan segera bawa dia pergi dari sin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
○ ○ ○
Di sebuah rumah bergaya Europeanclassic, dua orang pria sedang bersantai di teras. Ditemani dengan secangkir coffee hangat yang asapnya masih mengepul di udara dingin pagi itu.
Slurp
"Akhh.." Salah satu dari mereka menyeruput santai, sedangkan yang satunya lagi hanya diam dengan wajah terlihat masam.
"Informasi penting apa yang kau dapat Max?" celetuk pria itu—Bobby. Matanya seketika berubah.. menyorot tajam pria di depannya yang masih tak bergeming.
Pria yang dipanggil Max itu menghela nafas gusar.
Flashback on
Ting!
Suara lift berbunyi nyaring memecah keheningan lobi kantor. Sore itu.. seorang pria berjalan santai melangkahkan kakinya, menuju salah satu ruangan khusus yang tak sembarang orang bisa masuk.
Tangannya terulur untuk menekan tombol, dan terbukalah pintu di depannya dengan otomatis. Tanpa berlama-lama, pria itu melangkahkan kakinya masuk.
Prang!
Brak!
Sreek!
Suara ricuh langsung menyambut indra pendengarannya, bau anyir yang menyengat menusuk hidung, membuatnya merasa mual.
Matanya melihat sekeliling ruangan itu yang terlihat kacau, kotor, dengan tembok penuh bercak darah segar, serta beberapa mayat tergeletak dengan keadaan mengenaskan.
Pria itu menelan ludah kasar saat sang pelaku berbalik menatap tajam ke arahnya.
Dengan mempertahankan ke profesionalannya, ia menundukan kepala hormat.
"Selamat sore, Tuan." ucapnya tegas tanpa ada nada bergetar sedikit pun.
Sang pelaku yang merupakan seorang pria berusia lima puluh empat tahun itu terkekeh sinis. Kakinya perlahan melangkah menuju kursi kebesarannya, dan mendudukan tubuhnya dengan santai.
Matanya menyorot tajam sebuah jari telunjuk seseorang yang sempat ia potong tergeletak di atas mejanya. Dengan emosi yang masih memuncak, pria itu melempar ke sembarang arah. Dan kembali menatap pria yang masih beridiri di hadapannya.