SorLib - 006

28 11 0
                                        

"LIBI?? PIPI KAMU KENAPA?"

Ketika pintu aluminium di hadapannya terbuka, Radian langsung di buat salfok dengan lebam yang ada di pipi kanan Libian.

Libian melirik kearah Soren yang langsung membuang muka ke arah lain. Libian kira Soren adalah tante-tante yang anggun. Tapi, ternyata tante-tante senggol bacok.

Merasa tak ada balasan, Radian menghela napas nya perlahan. Kedua mata yang tadinya melihat ke arah Libian beralih ke arah Soren.

"Ren Li-" Radian menahan suaranya saat ia sadar sesuatu yang janggal. "Maksudnya Bian kenapa?" ia meralat pertanyaannya itu.

Soren tak langsung menjawab, ia melirik ke arah Libian yang masih dongkol kepadanya.

"Oh itu-" suara Soren tercekak, ia sepenuhnya memutarkan otak untuk berpikir alasan yang masuk akal. "Dia kejedot pintu tadi" jawab Soren.

"Kejedot?" ulang Radian dengan dahinya yang mengerut.

Soren mengangguk, "Iya, Pak. Lagian tu bocah ga sabaran banget. Udah tau banyak kaca malah lari-larian" lalu ia menjelaskan dengan bumbu-bumbu kebohongan.

Libian memalihkan pandangannya dengan sudutan senyuman kecil. "Dikira gua sebocah itu kali ya?" gerutu nya.

"Emang lu bocah" celetuk Soren.

Pandangan Libian langsung tertuju kembali kearah Soren. Kini matanya sedikit tajam tak terima dengan ucapan Soren yang seperti merendahkan dirinya.

"Coba bilang sekali lagi" sahut Libian sembari hendak maju mendekat ke arah Soren tapi langsung di tahan oleh Radian.

Soren memutar bola matanya malas lalu ia berbalik, berhadapan dengan Libian. "Lu bocah" ulangnya.

Kedua tangan Libian sudah menggepal di bawah sana. Meskipun, Libian jatuh suka kepada Soren, ia tak akan pernah membiarkan dirinya sendiri di rendahkan oranglain.

"GUA BUKAN BOCAH YA!" balas Libian dengan suaranya yang naik satu oktaf.

Soren terdiam sejenak saat mendengar balasan dari Libian. Senyumnya semakin ia miringkan, "Bukan bocah tapi muka lu kayak bocah" ujar Soren, perlahan langkahnya maju satu langkah mendekat ke arah Libian.

Tatapan matanya tak lepas dari wajah Libian yang terlihat menggemaskan di matanya. Meskipun ada yang berubah dari sorot matanya.

"Imut" ia menjeda ucapannya sejenak. Langkahnya semakin mengikis jarak di antara mereka berdua.

Soren sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar kala melihat wajah Libian, "Cantik"

Lengan yang tadinya mengepal tiba-tiba luruh seketika. Emosi yang menjalar seolah di hantam habis oleh perkataan Soren yang langsung mencelos mengenai hatinya yang paling dalam.

Wajah yang memerah karena percikan api itu seketika berubah menjadi merah di kedua pipi.

Bibir Libian sedikit bergetar ketika ia sadar jika senyum lebar nya akan terukir saat itu. Namun, pertahananya tak goyah.

Libian memilih untuk memalingkan wajah kearah lain dan mencoba untuk menghindari tatapan mata dengan Soren untuk beberapa saat.

***

Soren meletakan pulpen nya ketika ia sudah selesai menandatangani beberapa berkas yang menumpuk di meja.

Setelah itu ia bersandar beberapa detik di kursinya sambil melirik Libian yang masih anteng dengan tugas pertamanya di meja seberang sana.

Padahal, seharusnya Libian duduk di samping Soren. Hanya saja karena Soren refleks menghajar berondong itu sampai lebam, ia tak ingin dekat-dekat dengannya.

BERONDONG BUKAN BERANDAL (gxb)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang