Bab 12 : Caster Langit

235 20 0
                                        

✫ ✫ ✫

Mazell. Salah satu kota paling utara di Revaris. Kota Cahaya, kata Kapten Harlake. Tempat di mana manusia untuk terakhir kalinya melihat Visela, kata Rigel. Sebentar lagi Kota Mati, pikir Vega. Wanita itu tersenyum sinis sambil memperhatikan jalan yang bersalju. Siapa yang menyangka kalau Sang Cahaya—bukan Sang Air—ternyata berada di sini? Dengan suhu yang sangat rendah dan langit yang selalu mendung, tempat ini lebih cocok untuk Anima Air daripada Cahaya.

Badai baru saja berakhir saat Vega dan kedua anak buahnya tiba di Mazell. Pohon-pohon bergerak sedikit ditiup angin, menumpahkan salju yang ada di atas mereka. Tidak ada suara makhluk apa pun yang bisa didengar. Walaupun hampir setiap rumah menyala, cuma kesunyian yang ada di sana. Di pagi yang sangat dingin ini, mereka pasti sedang bermimpi indah di balik selimut.

Vega melangkah sambil mengamati itu semua. Angin yang bertiup pelan membuat dia merapatkan jubah panjangnya. Dia menghela napas.

Sembilan hari, pikir Vega, hanya untuk sampai ke tempat terpencil ini. Perjalanan dari Enice ke Mazell mungkin akan lebih cepat kalau mereka menggunakan kereta api, melewati Mircea. Akan tetapi, tindakan Shelk yang membuat Enice terbakar menyebabkan mereka tidak bisa menggunakan pilihan itu. Di Mircea mereka pasti dihadang oleh ramai prajurit kerajaan. Itu artinya pertempuran dan pembuangan Aura lagi, hal yang tidak ingin Vega lakukan sekarang.

Tapi, di kota ini pertempuran lah yang diinginkan Vega. Dia melirik Shelk yang berjalan di sisi kirinya. Untuk pertama kali sejak memulai ekspedisi ini, Vega senang dia membawa Shelk yang haus darah itu. Walaupun dia harus membuat Shelk marah padanya karena melarang anak itu menghancurkan Rancewind.

Vega sengaja membiarkan penumpang kapal Rancewind hidup. Kapten Harlake bersumpah kalau Vega dan anak buahnya akan menerima balasan atas pembantaian sebagian awak kapalnya. Mereka pasti memanggil penjaga kota sekarang. Tindakan yang memang diinginkan Vega. Akan terjadi pertempuran lagi. Tidak seperti Enice, di mana dia tidak yakin apa yang harus dilakukannya, di kota ini Vega menghilangkan semua keraguan itu. Lucia ada di sini. Dia tidak peduli apakah kota ini akan menjadi Enice yang kedua.

Ah, Lucia. Vega dapat merasakan Anima itu sekarang. Hanya memikirkan Anima itu membuat dia ingin membakar sesuatu. Membuatnya harus menahan diri untuk tidak menghidupkan Aura.

"Di mana target kita?!" tanya Shelk tak sabar.

Vega tidak menjawab. Dia tahu Lucia ada di kota ini. Dia tidak tahu dengan pasti keberadaan Lucia, tapi dia bisa memperkirakan letaknya. Bagi Vega, setiap Anima mempunyai nada tersendiri; dan Lucia mengeluarkan bunyi violin yang telah rusak. Bunyi yang membuat telinganya terasa ditusuk dengan jarum. Bunyi itu berasal dari barat, mungkin di luar kota. Tempat itu merupakan tujuannya.

Shelk memungut sebuah kaleng dan menggenggamnya sampai remuk. Anak itu telah menghidupkan Auranya sejak tadi. Sesekali tangannya menyemburkan api. "Aku bosan!" Shelk melemparkan kaleng itu ke udara. Kaleng tersebut langsung meledak, seolah-olah ia adalah sebuah bom.

Suara ledakan itu sebenarnya kecil, tapi di pagi yang sepi seperti ini, suara seperti itu bisa membangunkan semua orang. Suara orang-orang yang terbangun mulai terdengar. Di belakang, beberapa orang bersenjata tampak mengejar mereka bertiga. Pasti prajurit kota yang dipanggil awak Rancewind.

Waktunya mulai.

"Slaft, denganku," kata Vega. Dia menunjuk Shelk, "Dan kau, tinggal di sini!"

"Apakah aku boleh meledakkan mereka semua?" Tangan Shelk semakin banyak mengeluarkan api.

Sebuah senyuman kecil menghiasi wajah Vega. "Terserah."

Aura of Revaris : The Frozen KingdomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang