Backstreet | 32 : Tidak Sepenuhnya Selesai

12.2K 335 20
                                        

vote, komen, dan share cerita ini.✨

ada yg kangen sama cerita ini? nggak ada ya?


🐝🐝🐝


Setelah melaksanakan kegiatan di sekolah dari hari Senin sampai Jumat, akhirnya tiba di hari Sabtu. Yaitu libur, yang dilakukan oleh gadis yang masih mengenakan pakaian tidur, adalah hanya diam di atas kasur. Keluar kamar hanya untuk makan. Karena meskipun mager, makan adalah nomor satu bagi gadis itu, Dea.

Setelah berguling ke kanan dan ke kiri, akhirnya Dea bangkit untuk duduk. Ia mengucek matanya dan melihat ke arah jam weker, yang ternyata sudah pukul empat sore. Maklum, selain suka matcha, dia juga sangat suka tidur. Sebenarnya ia sudah bangun dari pukul sembilan karena Noval, abangnya yang super ngeselin itu membangunkannya. Alhasil ia bangun, dan sarapan. Setelahnya, ia lanjut tidur pada pukul dua belas siang setelah marathon K-drama. Dan tidak mandi sama sekali.

Kini ia melipatkan kedua kakinya untuk duduk dan menggeliat sebentar. Tangan kanannya merogoh untuk mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dan iya tidak ada notif dari siapapun. Kecuali pesan-pesan spam. Ngenes banget jadi jomblo, ringisnya dalam hati.

Singkatnya, kini Dea sudah berada di ruang tv dan mengedarkan pandangannya untuk mencari Mama dan Abangnya. Namun, ia tidak menemukan. Tapi, matanya terarah pada sebuah sticky notes yang menempel pada tv. Dengan penasaran ia mendekat dan mengambilnya, ternyata sebuah pesan dari Mamanya yang berisi;

"Hai, sayang. Mama sm Abang pergi ke pusat perbelanjaan sebentar.... kalo adek udah liat ini, mandi dulu ya, love.... ntar Mama beliin makanan."

Tanpa sadar ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mamanya ini sangat romantis memang. Tangannya menggenggam sticky notes tersebut dan di bawa ke kamar bersamanya untuk melaksanakan perintah sang Mama, yaitu mandi. Saat baru saja ia meletakkan sticky notes tersebut di atas meja belajarnya, ponsel yang ada di atas kasur terdengar berdering, seperti ada yang menelpon. Dengan penasaran, Dea mendekat dan tertegun. Ia terdiam sebentar dan mengambil ponselnya. Matanya terlihat berkaca-kaca ketika membaca nama yang menelponnya.


Papa is calling....


Dea mengambil napas dan menghembuskannya perlahan, ia mengangkat telpon tersebut dan terdiam menunggu orang yang disana untuk menyapanya terlibat dahulu.

"Hai, sayang."

Dea memejamkan matanya, mengatur napas supaya suaranya tidak terdengar bergetar. "Hai, Pa."

"Dea apa kabar? Maaf ya, Papa baru menelpon kamu sekarang." suara Papa diseberang sana terdengar menyesal.

Dea mengangguk walau itu tidak akan terlihat oleh Papanya, "Baik, Pa. Papa gimana? Sehat kan ya?"

Papa terkekeh, "Selalu. Kayaknya penyakit-penyakit yang suka nempel pada orang tua kayak Papa, takut deh sama Papa."

Dea ikut terkekeh walau matanya terlihat berkaca-kaca. "Sehat-sehat ya Pa."

"Kamu juga." balas Papa dengan semangat. ".... dan Abang, Mama juga harus sehat-sehat ya?" Papa terdiam sebentar, berat sepertinya untuk menyebut dua orang tadi. Karena, terakhir pertemuan ia dan anak pertamanya itu, bisa dikatakan tidak baik. Dan untuk mantan istrinya, agak-agaknya kalau mantan istrinya itu tidak baik-baik saja, mungkin itu karena dirinya.

Backstreet [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang