Kamu akan tahu ketika ingin tahu
Kamu akan menemukan "Aku"
Tapi aku tak memaksa untuk mengerti
Sebab mengerti atau tidaknya kalian tergantung seberapa dalam kalian mengetahui "Aku"
Jadi, maukah kalian menemukan "Aku"?
Hope you enjoy it
Em Aile
Sourc...
"Aku tidak tahu berapa lama aku tertegun sebab tawa lepasmu"
🍃🍂🍃
"Wahh.... Dia kering, terlihat hampir mati, tapi barusan tumbuh begitu saja dengan cepat." Aku terkagum hingga bermonolog melihat pohon kering.
"Aneh, tapi aku suka," aku tersenyum tipis dan teringat akan sesuatu. Sesuatu yang kulupakan, namun aku lupa apa yang kulupakan.
Lalu dari mana cahaya itu berasal?
Apa maksud, "Ah!"
Aku terkejut ketika merasakan kaki ku terbelit rambut halus berjalan ke atas. Geli. Dan aku reflek melihat ke bawah. Tidak ada apapun.
Pakaian belakangku terasa ada beban, aku mencoba memutar tubuhku. Dapat kurasakan ada yang berpegangan pada cardiganku. Akh, apa ini? Aku segera melepas cardigan dan mengibaskannya ke depan.
Eh?
Kenapa tidak ada apa-apa?
'Plukk'
Aku menegang terkejut. Ada sesuatu yang mendarat di kepalaku. Tubuhku kaku. Pikiranku campur aduk. Tanganku masih lurus memegang cardigan berwarna mint milikku. Tatapanku lurus ke pakaian yang kupegang.
Tunggu, ada apa di balik cardiganku? Jauh di sana, ada seorang perempuan duduk di bangku taman di dekat pohon.
Perlahan, aku menarik tanganku dalam dekapanku.
Dia, yang ternyata orang yang duduk di bangku taman di dekat pohon, memperhatikanku dengan senyumnya.
Apa dia tidak kenal lelah untuk selalu tersenyum?
Tatapan kami bertemu. Aku menghela napas, mengeluarkan asap putih yang cukup terlihat.
"Haahh, sudahlah biarkan saja," ujarku dalam hati.
Tiba-tiba ada seperti kumpulan rambut halus besar mengitari leherku. Lagi, aku terkejut.
Aku menengok ke samping kanan ketika aku melihat dengan ekor mataku ada sesuatu di pundak kananku. Wajahku sedikit mundur dengan badan yang masih tegang.
"Akh," ujarku lalu mencicit, "tupai, ya. Jadi... tadi itu tupai."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hewan kecil itu memiringkan kepalanya. Telinganya bergerak sebentar, begitu juga dengan hidungnya. Ah, manisnya.
"Apa kau sama bingungnya denganku?" aku bertanya dengan alasan merilekskan tubuh dari rasa terkejut.
Tupai itu mengelus kepalanya sekali, lalu dua kali. Aku tersenyum tipis melihatnya.
"Oh, orang tadi," aku melihat ke arah bangku taman di mana orang tadi berada. Dia masih setia memperhatikanku juga senyumnya. Aku tersenyun kecut melihatnya. Ada apa? Kenapa?
Kugelengkan kepalaku pelan. Aku ingat. Sebelumnya aku akan pergi tanpa arah meninggalkannya, tapi pohon kering tadi muncul dan menghentikanku seperti sekarang. Dan aku akan pergi saat ini.
Aku berjongkok dan menurunkan tupai itu pelan-pelan. Mungkin dia berasal dari pohon itu, jadi biarlah dia tetap di sini. Aku mengenakan cardiganku, lalu berdiri dan berbalik melanjutkan niat awalku. Pergi.
Berjalan, aku berpikir, mungkinkah tempat putih ini tak berujung? Atau akan kembali ke pohon tadi?
Cardigan belakangku terasa tertarik seketika. Dan untuk kesekian kalinya, aku terkejut. Aku menghentikan langkahku. Beban yang menarikku dari belakang berpindah ke pundak kananku. Itu tupai yang tadi. Dia meletakkan ekor panjang dan berambut lebat ke leherku. Lumayanlah, leherku menjadi lebih hangat, meski aku memang kaget dengan sikapnya.
Aku kembali berjalan. Sedangkan tupai tadi? Simpel saja, mungkin dia ingin ikut denganku.
Yah, aku senang punya teman perjalanan untuk waktu yang tak kutahu berapa lama ini kan berjalan.
🍃🍂🍃
How's life, guys? Hope you are allright and healthy ⌒_⌒
✨Author's note :quotes di awal halaman/chapter tidak selalu berhubungan dengan isi halaman/chapter 🌟