Sekali Lagi

45 8 0
                                        

Biasakan Vote dulu sebelum membaca, biar Author semangat up-nya:/

.
.
.
.
.

Tatapan itu sama persis dengan Bakugo, Okura menyudutkan netra merahnya dan menerima tawaran itu. Sering beberapa kali gadis itu menyentuh atau membelai belakang lehernya ketika Mitsuki sudah keluar dari kamar Bakugou. Bakugou yang melihatnya dibuat risih dan jengkel, ia benar-benar gregetan ketika Okura sering menyentuh lehernya itu, padahal tidak ada luka sama sekali di sana, memangnya apa yang membuatnya gelisah hah?

Karena suasananya yang panas, tidak ada yang memulai pembicaraan, Okura juga merasakan hal yang sama, ia hanya sibuk meminum minumannya dan memalingkan pandangannya kejendela dan sesekali menyentuh lehernya.

Kalian tau juga kan leher adalah bagian paling sensitif baginya.

Bakugou semakin risih dengan pandangan gadis itu, menjengkelkan Okura hanya membuat Bakugou geram karena ia begitu penasaran, ia kuga bingung mengapa gadis itu terus-terusan menatap jendela itu, sembari mengelus lehernya. Dengusan juga terdengar keluar dari hidung Bakugou, Okura yang masih lesu cukup menelan ludah kasarnya dan tidak bisa membela dirinya sendiri.

"Apa yang membuatmu seperti ini huh?"

Gadis itu ber-HuH balik, seberapa keponya Bakugou itu membuat pandangan Okura kembali fokus pada Bakugou, ia hanya menyipitkan matanya dan kembali membelai.

"Apa urusanmu?"

"Jawab saja sialan..."

"Itu bukan urusanmu"

Bakugou menarik poni depannya dan menutup seluruh matanya dibalik bayang rambutnya. Ia sudah beberapa kali geram dan dibuat ngamuk oleh gadis itu. Ketika sakit pun Okura bisa menyebalkan juga baginya. Bakugou hanya berdiri dari bangkunya dan menghentak kakinya mendekati kasur itu.

Okura yang terlihat bingung dan gelisah, cepat-cepat memegang belakang lehernya dan memandang arah lain. Dadanya tengah sakit sekrang, nafasnya terhenti sejenak, Bakugou yang masih menggantungkan tangannya di saku celananya hanya menunggu jawaban.

"Tatap aku nenek sialan!"

Entah apa yang membuat Okura gelisah, ia menghindari tatapan Bakugou dan masih saja memasang wajah kerut. Bakugou dibuat geram gadis itu, ia benar-benar gila ketika gadis itu mulai mempermainkan dirinya. Pengecut bagi Bakugou, ternyata gadis itu tidak berani menatapnya setelah ia bangun dan sadar. Okura bahkan tidak tau jika Bakugou menggendongnya tadi, dan Bakugou juga tidak tau apa yang tengah dipikirkan gadis itu.

Okura hanya membelak matanya, perlahan Bakugou mendekatinya dan membuat Okura kembali pada kasur lelaki itu. Ada suara khas wanita dibalik jatuhnya Okura dan terkejut setelah Bakugou memaksanya rebahan kembali. Yang membuatnya terkejut ketika Bakugou menatap tajam netra merah hatinya dan bertatap serius. Okura hanya membalas tatapan itu dengan tenang.

Tidak dia tarik pemikirannya, ia sangat khawatir. Yang dilakukan Bakugou itu tidak wajar, mereka tertatap empat mata dalam posisi yang tidak bagus. Ia ingat posisi ini ketika ia perang bantal dengan Bakugou saat dirumahnya, posisi ini dipertemukan kembali. Okura berusaha menyembunyikan merahnya wajah dan meneguknya ludah kasarnya.

Bakugou, terlihat dari atas dia sangat berbeda. Okura hanya menatap matanya itu sesekali meringai dan membangunkan dirinya. Sayang sekali ketika Okura memberontak Bakugou menahan kedua tangan gadis itu. Gadis villain itu membuka mulutnya, ia ternganga besar ketika ia merasa lesu dan tidak bisa menjaga lehernya.

"Lepaskan! Apa-apaan ini!"

"Jawab aku..."

Pertama kalinya Okura merasa panik dan berdecak kesal, ia yang lesu tidak bisa memberontak tangan besar Bakugou dan memalingkan wajah. Ia hanya berpikir lehernya tidak aman saat ini, meski ia tidak berpikir macam-macam tapi ia merasa khawatir dengan kebebasan lehernya. Okura hanya khawatir itu, lehernya yang super sensitif.

A Hero FellingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang