"Gue berhenti bukan karena jenuh, tapi udah nggak ada waktu untuk itu semua."
•
•
Saat khutbah Jum'at berlangsung, Dava yang duduk di teras masjid terlihat tidak mengalihkan pandangannya dari besek-besek yang berjejer rapi di sebuah meja. Dava menepuk pundak Biru membuat sahabatnya itu melirik sekilas.
"Qen, Jum'at depan datang ke sini nya ditelat-telat aja, ya?"
Bukan tanpa alasan Dava bicara seperti itu. Biasanya, Biru selalu datang lebih awal ke masjid, walau hanya untuk membantu menggelar sajadah dan karpet. Jadi, Biru selalu mendapatkan barisan paling depan. Karena itulah, jarak Biru dan Dava menuju besek-besek itu cukup jauh. Berbeda dengan sekarang, Biru dan Dava datang terlambat. Mau tak mau mereka menempati teras Masjid karena bagian dalam masjid sudah sangat penuh. Namun, berbeda dengan Biru, Dava sepertinya sangat bahagia. Dia bahkan tidak berhenti tersenyum saat menatap besek-besek itu.
"Hm.." Biru hanya bergumam sebagai balasan.
Setelah menyelesaikan dua rakaat salat Jum'at dan orang-orang mulai bangkit untuk pulang, Dava langsung berjalan cepat menuju meja. Tanpa ragu, Dava langsung mengeluarkan kantong kresek putih yang ia selipkan di lipatan sarung. Kemudian mengambil tiga besek sekaligus. Biru yang juga sedang mengantri hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah mengambil besek, keduanya langsung berlari mengejar Bang Damar yang sudah lumayan jauh dari masjid. Tindakan heboh mereka itu mengundang tawa beberapa orang.
"Bang, beseknya masukin sini aja."
Damar menatap kantong plastik putih yang dijinjing Dava. Kemudian memasukkan besek kedalamnya. Detik berikutnya, mereka kembali mengambil langkah menelusuri gang menuju rumah Damar.
"Dav, Abang dengar dari Qen, kamu suka main alat musik?"
"Iya suka, Bang."
"Kebetulan Abang punya gitar listrik di rumah, tapi sayang nggak ada yang pakai. Mau kamu ambil aja?" Kata Damar.
Dava terdiam sejenak. Kemudian menganggukkan kepala. "Boleh, Bang. Ntar Dava bawa pulang," balas Dava yang direspon anggukan singkat oleh Damar.
Suasana di rumah Damar tak pernah sepi karena karena kedua anaknya yang super aktif. Dan khusus untuk hari Jum'at, rumah akan lebih ramai dari biasanya karena kedatangan Dava yang aktifnya melebihi balita. Setelah para laki-laki pulang dari masjid, mereka memutuskan untuk makan bersama di teras rumah. Nasib baik hari ini Dava memborong besek agak banyak sehingga semua penghuni rumah dapat merasakan nikmatnya nasi hasil perjuangan.
"Rahma, lulus sekolah mau lanjut ke mana?" Tanya Mia membuat Rahma tertegun cukup lama.
"Ibu kayaknya mau aku masuk geologi, tapi Ayah bilang mau aku daftar kedokteran. Jadi bingung. Aku udah coba diskusi sama guru agamaku dan disuruh ikut keinginan ibu, kalau masih aja ragu, aku disuruh sholat."
Tidak ada angin tidak ada hujan, Dava dan Biru otomatis tertawa begitu mendengar curahan hati Rahma. Hal itu tentu saja membuat Rahma mendelik tajam. Rahma tahu kedua sahabatnya bercanda, tapi tetap saja. Sungguh, sungguh, sungguh, respon dari kedua orang itu menyebalkan.
"Selain keinginan Ibu sama Ayah, kamu maunya daftar ke mana?"
"Sastra Indonesia, Teh. Aku kayaknya lebih mantap ke sama, tapi nggak tahu deh."
Mia terkekeh lalu melirik Damar. "Kasih saran calon adik iparmu ini," kata Mia, praktis membuat Biru melotot.
Biru terkekeh canggung sambil membuang muka. Seingat Biru, dirinya tak pernah sekalipun mengadu tentang perasaannya pada Damar maupun Mia, tapi mengapa kakak iparnya yang ceplas-ceplos itu sampai berbicara sedemikian rupa? Biru susah payah menelan ludahnya sendiri ketika Dava terus menyenggol lengannya.
"Kalau menurut Abang, sholat aja dulu. Karena Allah yang paling tahu. Abang yakin Allah pasti tunjukkan yang terbaik, sesuatu yang kelebihan dan kekurangannya bisa kamu terima," tutur Damar menyingkirkan suasana canggung yang sempat menyapa.
"Abang bilang gini bukan cuma ke Rahma, tapi ke kalian juga." Damar melanjutkan seraya menatap Biru dan Dava yang masih saling senggol.
Damar sudah merasakan manis dan pahit kehidupan lebih lama dibandingkan ketiga anak SMA di hadapannya. Jadi, Damar tahu betul bagaimana rasanya khawatir tentang masa depan yang tidak pernah bisa ditebak.
"Kata mamahnya Qen, hidup itu pilihan yang ditakdirkan. Layaknya menulis di atas kertas kosong, kita bisa memilih mau menggunakan tinta apa dan menulis apa. Berbuat baik atau buruk, terus maju atau menyerah dan banyak lagi. Apapun yang kita pilih Allah tahu dan Allah kasih konsekuensinya. Otomatis dalam perjalanan menikmati pilihan itu, pasti ada manis dan pahitnya. Datang manis kita syukuri datang pahitnya kadang kita ngeluh dan merasa pilihan kita salah. Makannya pilih yang paling baik untuk kita karena terkadang yang kita inginkan belum tentu baik."
Dava mengacungkan tangan membuat semua mata tertuju padanya. "Kenapa kita cuma punya satu pilihan, Pak?" Tanya Dava diselingi cekikikan.
"Lo nggak akan bisa adil!" Seru Biru tepat di telinga Dava. Membuat Dava melotot.
"Suara cempreng lo itu, Qen- mengguncang jiwa raga!" Balas Dava, praktis mengundang gelak tawa.
"Dav, gue tanya sama lo, kalau disuruh pilih lo mau pilih OSIS, eskul futsal atau eskul badminton?"
"Futsal sama badminton."
"Kalau misalkan dua eskul itu ada kegiatan di waktu yang sama, lo bakal pilih ikutan yang mana?"
"Futsal, tapi kalau nanti ada kegiatan di waktu yang sama lagi, gue ikut badminton. Jadi gantian biar adil."
Dava sudah memasang ekspresi percaya diri, seakan-akan dia ingin menunjukkan pada dunia kalau dirinyalah manusia teradil di muka bumi ini. Namun, wajah penuh kebanggaan itu hilang begitu Biru menampar pipinya.
"Dengar, nggak ada yang bisa adil kecuali Tuhan. Kalaupun lo punya beribu-ribu pilihan lo akan punya satu yang paling lo suka. Satu yang paling sesuai dengan kemampuan lo. Karena kita terlalu kecil untuk membawa terlalu banyak pilihan."
Dava mendelik lalu menutup mulut Biru. "Sshhh, mendingan lo diam. Kalau lo ngomong gitu, gue jadi malu bermimpi punya banyak istri," bisik Dava membuat Rahma hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Dasar gila! Satu aja belum tentu lo punya," ledek Rahma.
"Dih, sensi banget jadi orang. Kalau gue mau, gue bakalan nikahin semua cewek di seluruh penjuru dunia ini. Biar si Qen hidup membujang sampai kehidupan di muka bumi ini berakhir."
Setelah mengatakan itu, Dava tergelak sambil memukul-mukul Biru. Biru yang merasa didzalimi otomatis membalas pukulan Dava. Sementara itu, tiga orang yang memperhatikan keributan hanya bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Percuma, dihentikan juga tidak akan mendengar, tunggu sampai dua-duanya minta dipisahkan saja.
Rahma menatap Damar dan Mia secara bergantian. Kemudian angkat bicara, "Bang.. Teh.. aku pernah dengar seseorang ngomong gini, 'Kalau udah ngerasain rasa sakit dalam menjalani kehidupan, lo bakalan tahu seberapa berharganya waktu yang udah lo lewatkan. Lo bakalan kangen hobi yang dulu bisa dinikmatin tiap hari, tapi sekarang udah ngga bisa lagi. Bukan karena jenuh, tapi udah ngga ada waktu lagi buat hal semacam itu.' Sekarang aku ngerti alasan kenapa Dava sama Qen nggak pernah mencaci maki waktu," tutur Rahma, hampir terisak.
Dava baru sadar tentang seberapa berharganya waktu sejak kedua orang tuannya tiada. Dulu, Dava jarang sekali memanfaatkan waktu yang dia miliki bersama keluarga, bahkan sekedar makan bersama saja jarang. Namun hari ini, makan bersama adalah sesuatu yang sangat Dava dambakan. Andai bisa kembali, Dava tidak akan melewatkan satu detik pun tanpa keluarga nya. Begitu juga dengan Biru, jika Biru tahu akan berjauhan dengan Mama dan Abah, tidak akan pernah satu detik pun Biru melewatkan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Andai Biru tahu Tuhan akan memberi dia ujian berupa penyakit, Biru tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu yang dia miliki dengan apapun yang membuat dia lupa pada segalanya.
"Penyesalan itu pasti ada aja. Mau lagi hidup atau udah meninggal pasti akan ada penyesalan. Makannya, sebisa mungkin manfaatkanlah waktu yang ada. Berhenti mencaci maki waktu ketika dia berjalan terlalu cepat atau lambat, toh kita tetap akan bisa menyesuaikan langkah kita," tutur Mia membuat Damar suaminya melongo, tumben sekali berbicara penuh arti seperti itu.
Rahma memperhatikan Mia dengan seksama. Benar, setiap waktu yang telah terbuang dengan cuma-cuma itu adalah penyesalan besar dan "ANDAI" akan selalu jadi pelengkap dari penyesalan itu. Sumpah serapah pun tidak kalah membumbui, tapi alangkah baiknya kita harus sadar diri kalau yang salah itu bukan waktu yang berjalan sebagai mestinya, melainkan diri kita yang lalai dalam segala hal.
To Be Continued.