{ᏢᏒᎬᏉᎥᎾᏌᎦ ᏟᎻᎪᏢᏆᎬᏒ}
_________________________________________
"Aku sungguh tak percaya ini."
Taehyung, bersabarlah. Sebentar lagi waktu kita di sini akan segera habis, dan saat itu tiba, aku akan segera membawamu pulang ke dunia asalmu. Kau akan bertemu dengan kedua orang tua kandungmu. Aku sudah merasakan tanda-tanda itu akan segera keluar. Aku mohon bersabarlah sedikit lagi.-Seokjin
"Sebentar lagi, rasa sakit, penderitaan, dan seluruh kebingunganmu akan hilang. Kehidupanmu yang sebenarnya akan segera dimulai."
"Aku harap, kau siap. Aku akan selalu berada di sampingmu, Adikku."
_________________________________________
Today|Chapter - 11
Happy Reading :)
[ᏆᎻᎬ ᏞᎾᏉᎬ ᎾᎰ Ꭺ ᏞᎾᎦᏆ ᏢᏒᎥᏁᏟᎬ]
"Jimin?" Senyum di wajah Taehee merekah ketika melihat sosok sahabat dekat Putranya datang berkunjung ke kediaman mereka.
Jimin membungkuk sedikit sebagai salam atas kedatangannya ke kediaman keluarga sahabatnya, ia menghampiri Ibu dari sahabat dekatnya dan memeluk Wanita paruh baya tersebut. Jangan heran dengan perilaku Remaja laki-laki itu, sebab kedua orang tua Taehyung telah menganggap Jimin seperti anak mereka sendiri, begitu juga sebaliknya.
"Ibu... Aku mendengar kabar buruk mengenai keadaan Taehyung. Maafkan aku karena aku baru bisa datang sekarang, maafkan aku..."ujar Jimin menyesal.
Taehee tersenyum kecil, ia mengusap pelan kepala Jimin sembari berkata.
"Tak apa-apa. Ibu mengerti, kau pasti juga memiliki urusan yang penting kan? Sekarang pergilah ke kamarnya, dan Ibu minta padamu untuk menghiburnya. Ibu tak tahu mengapa perubahan sikapnya semakin kentara."pinta Taehee dengan raut wajahnya yang sendu.
Jimin mengangguk perlahan, lalu ia pamit kepada Taehee untuk pergi ke kamar sahabatnya.
Sesampainya di depan kamar Taehyung, tanpa mengetuk pintu, Jimin langsung mendorong pintu kamar itu secara perlahan. Ia mengintip sedikit untuk memeriksa keadaan di dalam, dan matanya menangkap Sahabatnya sedang duduk bersandar di atas kasurnya dengan pandangan yang kosong.
Perlahan tapi pasti, Jimin melangkah masuk ke dalam kamar itu dan mendekati Taehyung yang sepertinya masih belum menyadari kehadirannya.
Saat memasuki kamar itu, Jimin merasakan aura yang sangat kuat, ia tahu, seorang manusia biasa tak mungkin memiliki aura yang sangat kuat seperti itu. Akan tetapi, ia mencoba untuk menepis segala hal yang mengganggu pikirannya, karena ia yakin bahwa aura yang dirasakannya bukan berasal dari Taehyung, mungkin hanya sebuah kebetulan saja.
Namun, semakin dekat posisi Jimin dengan Taehyung, aura yang dirasakan oleh Jimin semakin kuat bahkan sangat kuat seperti aura seorang penguasa agung. Jimin menggelengkan kepalanya, ia masih mencoba untuk menepis apa yang dirinya rasakan, tetapi tak berhasil.
Apakah ini saatnya ia memastikan sesuatu yang mengganggunya selama berada di dunia manusia, lebih tepatnya setelah dirinya bertemu dan mengenal sosok Taehyung?
Dewi Bulan, haruskah aku melakukannya saat ini juga? Mungkin ini adalah waktunya, maafkan aku Tae.-Jimin
Ketika Jimin hendak menyentuh pundak sahabatnya, pergerakannya terhenti karena tiba-tiba Taehyung menoleh ke arahnya, sepertinya ia baru menyadari kehadiran orang lain di kamarnya.
"Sejak kapan kau datang?" Suara itu. Suara itu sekarang terdengar sedikit asing di telinga Jimin, nada bicara Taehyung entah mengapa terdengar dingin dan ketus ketika melontarkan pertanyaan itu pada Jimin.
"A-ah...kurang lebih 5 menit yang lalu."jawab Jimin.
Taehyung memandang datar Sahabatnya, tak lama kemudian sebuah senyuman sendu terpantri di wajah tampannya.
Jimin agak sedikit terkejut, ia terhipnotis melihat senyuman itu. Sebuah senyuman yang sangat teduh jika dilihat secara saksama.
Ayah, sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya.-Jimin
"Kau adalah manusia yang sangat menjengkelkan, Park Jimin. Disaat aku sakit, kau malah menghilang dari peredaran."umpat Taehyung.
Jimin terkekeh, ia berdiri di sebelah kanan ranjang milik Taehyung.
"Hahaha... maafkan aku kawan. Aku hanya..." Ucapan dari remaja laki-laki itu terhenti saat tangan kirinya menyentuh pundak Taehyung dan hendak menepuknya.
Untuk kesekian kalinya Jimin terkejut. Dirinya terdiam membantu sesaat kulitnya merasakan hawa dingin yang tidak normal dari tubuh Taehyung.
Sebenarnya ada apa denganmu, Tae?-Jimin
Karena sudah tak tahan dengan segala yang ia rasakan semenjak masuk ke dalam kamar Taehyung, akhirnya Jimin melakukan sesuatu yang tak terduga.
"Jim... Apa yang sedang kau lakukan?!" Taehyung terkejut ketika melihat bola mata Sahabatnya.
Warna bola matanya Jimin yang semula berwarna coklat gelap, kini berganti menjadi abu terang dan tatapan matanya terlihat sangat tajam, sangat berbeda sekali dengan Park Jimin yang Taehyung kenal.
"A-apa ini?!!" Taehyung sudah tak dapat berkata-kata lagi, tiba-tiba saja keringat dikeningnya menetes. Ia sungguh merasa asing terhadap sosok di hadapannya.
"Jim..."
"Maafkan aku, Tae..." Tangan kanan Jimin terangkat dan sedikit bercahaya.
Taehyung benar-benar terguncang melihatnya, sungguh kejadian ini sangat diluar nalar manusia.
Tidak! Ini pasti hanya mimpi. Ia tak percaya, pasti dirinya hanya berhalusinasi, tak mungkin seorang manusia biasa dapat melakukan hal demikian!
Tangan kanan Jimin mendarat di kening mulus sahabatnya, cahaya yang keluar dari tangannya semakin terang ketika menyentuh kulit Taehyung.
Tubuh Taehyung membeku seketika, ia tak dapat mengontrol tubuhnya sendiri, bahkan hanya sekedar untuk menggerakan lidah saja ia tak mampu. Ia merasakan sebuah sengatan listrik dari tangan sahabatnya. Kejadian itu berlangsung selama beberapa menit hingga kegelapan menyelimuti pandangannya.
Taehyung tak sadarkan diri.
"Sekali lagi, tolong maafkan aku."ujar Jimin pelan.
Jimin mengarahkan tangan kirinya ke arah pintu dan sebuah petir keluar dari tangannya, lalu menabrak pintu kamar Taehyung hingga membentuk sebuah segel.
JDAR-!!
Jimin menutup kedua matanya, sembari mengucapkan sebuah kalimat.
"Για χάρη της αγνότητας της Θεάς της Σελήνης και της ομορφιάς της, και για χάρη της αγνότητας του προγόνου μου, είμαι ο Τζέιμς Λόρενς, ο αγνός απόγονος του βασιλείου του Λόρενς θα σπάσει τη δύναμη του σκότους που έχει μπλοκάρει το μονοπάτι του μεγάλου στο φως της αλήθειας και της ειρήνης! Για την ευημερία των κατοίκων της γης του Ζερεμπού και την αγάπη του μεγάλου Κυρίαρχου, σπάω τη δύναμη του σκότους ρισκάροντας τη ζωή μου!"¹
Seketika cahaya biru langit berpendar dari tubuh Taehyung, dan secara perlahan sebuah lambang aneh yang belum pernah sama sekali Jimin lihat seumur hidupnya terbentuk di kening Sahabatnya, hingga membuat Jimin terdiam kaku di tempatnya.
A-apa?!!! Apa maksud dari semua ini?! Ta-Tae....-Jimin
Jimin, atau kita sebutnya pangeran mahkota James Lorens, tubuhnya menjadi lemas, ia tak dapat menopang beban tubuhnya sendiri sampai membuatnya harus terjatuh dan berlutut di lantai sembari menyaksikan hal yang membuat dirinya tunduk.
Cahaya dari tubuh Taehyung semakin berpendar terang, angin berhembus kencang, suhu udara menjadi sangat dingin dan panas secara bergantian, dan tiba-tiba saja sebuah petir menyambar dari langit.
JDARRR-!!!!
WUSHHHH-!!
"Ti-tidak! Aku tidak dapat mempercayai ini!!!" James berdiri dan langsung mendekati Sahabatnya, ia menyentuh kening Sahabatnya, lalu menutup kedua matanya.
Perlahan tapi pasti, Cahaya dari tubuh Taehyung meredup, suhu udara kembali menjadi normal. Ketika keadaan telah kembali normal, James menetralkan napasnya. Ia masih sangat terkejut menyaksikan peristiwa tadi.
Mata remaja laki-laki itu teralihkan pada kalung Taehyung yang sedikit mengeluarkan cahaya dan percikan api.
James tersenyum sendu.
"Seharusnya, aku tahu sedari dulu, bahwa aku telah berada dekat denganmu, Yang Mulia...."
~~~~
"Yang Mulia!"
"Aku sudah tahu, William. Pangeran mahkota sudah mulai membuka segel itu. Kita hanya tinggal menunggu waktu kembalinya sang Pangeran."jelas Raja Lorens ketika William, Seorang Panglima kepercayaannya datang menemui dirinya.
Sang Raja telah mengetahui dan merasakan apa yang telah dilakukan oleh Putranya di dunia manusia.
"Anak itu sudah mendapatkan jawabannya. Misinya di dunia manusia telah selesai. Anakku akan membawa "Dia" kembali ke Zerebos."lanjut sang Raja.
"Yang Mulia, sepertinya akibat dari terbukanya segel itu telah memengaruhi kesehatan istri mendiang Raja Gonvinas, Adik anda."ujar William.
Raja Lorens terkejut, ia tak menduga jika terbukanya segel milik "Dia" akan berpengaruh pada adiknya.
"Segera kirimkan pasukan khusus dari kerajaan kita untuk penjagaan Ratu Gonvinas, dan aku menugaskanmu untuk menjaga serta melindungi Ratu Gonvinas. Karena sebentar lagi Pangeran Kenzo akan meninggalkan Kerajaannya dan tak akan ada orang yang menjaga Ratu."titah Raja Lorens.
"Baik, Yang Mulia."
~~~~
"Ibu?!!" Kenzo berlari menghampiri Ibunya yang jatuh tergeletak di lantai ruang Singgasana.
Ia menggendong Ibunya dan berteleportasi ke kamar sang Ratu. Kenzo menidurkan Ibunya di atas ranjang dengan sangat hati-hati, lalu ia memerintahkan seorang prajurit untuk segera memanggil Altea.
"Ibu!! Apa yang telah terjadi padamu?"gumannya cemas.
Tak lama kemudian seorang Altea berusia 100 tahun datang dan segera memeriksa keadaan sang Ratu atas izin Kenzo.
Pangeran muda itu terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak? Ketika ia hendak masuk ke dalam ruang Singgasana untuk menemui Ibunya, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sang Ibu jatuh tergeletak di lantai tanpa sebab.
"Bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu?"tanya-nya.
Altea tersebut menoleh dan menghela napas.
"Sebuah segel dari seseorang yang terikat erat dengan sang Ratu telah terbuka dan hal tersebut yang menyebabkan kondisi Yang Mulia Ratu langsung menurun drastis, Pangeran."kata Altea tersebut.
Kedua mata Kenzo membelalak karena terkejut mendengar penjelasan dari Altea tersebut.
"Ko-kondisi Yang Mulia menurun drastis?! Da-dan segel apa yang kau maksud?!"tanya Kenzo tak percaya.
Altea tersebut terdiam sejenak.
"Mohon maafkan saya, Yang Mulia Pangeran. Saya hanya mengetahui fakta ini dan tak dapat menjelaskan lebih lanjut. Yang jelas, untuk saat ini, Yang Mulia Ratu harus kembali fokus dalam pengawasan seorang Ezra atau Altea hingga kondisinya kembali pulih. Jangan sampai penyakit yang dideritanya semakin parah,"
"Saya mohon undur diri, Pangeran."pamit Altea tersebut.
Setelah kepergian Altea itu, Kenzo mendekati Ibunya dan menatap Wanita paruh baya tersebut dengan sendu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tak akan bisa menjaga Ibu, karena sebentar lagi aku harus pergi. Maafkan aku, Ibu. Aku akan segera mencari seseorang yang dapat menjaga Ibu dan Kerajaan kita selama aku pergi."
~~~~
2 Bulan kemudian...
Seorang pria muda berjas hitam melangkah keluar dari bandara dengan menggeret koper hitam miliknya.
Ia melihat arloji di tangannya sembari terus melangkah menuju sebuah mobil hitam mewah yang terparkir di luar bandara.
"Selamat datang kembali di Seoul, Tuan Muda."ujar seorang supir yang menyambut kedatangannya saat ia sampai di mobil tersebut.
Pria muda itu tersenyum ramah kepada sang Supir yang telah lama mengabdi pada keluarganya.
"Terima kasih atas sambutannya, Tuan Choi. Aku sangat senang sekali kembali ke Seoul. Ayo kita pulang, Aku tak sabar ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu, terutama dengan Adikku."balasnya.
Sang Supir tersenyum mendengar lontaran kalimat dari Tuan Mudanya.
Kemudian, ia membukakan pintu mobil untuk Tuan Mudanya.
"Silahkan masuk, Tuan Muda."
"Terima kasih." Pria muda itu masuk ke dalam mobil tersebut.
Setelah sang Supir menutup kembali pintu mobil itu dan meletakan koper milik Pria tersebut di bagasi mobil, barulah mereka memulai perjalanan menuju kediaman si Pria tersebut.
Di tengah-tengah perjalanan, Pria muda itu memulai pembicaraan dengan supirnya.
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibuku, Tuan Choi?"tanya-nya.
"Kabar Tuan dan Nyonya besar sangat baik, Tuan muda Seokjin."jawab sang Supir.
Seokjin, Pria muda itu tersenyum setelah mendengar kabar kedua orang tuanya.
"Lalu, bagaimana dengan kabar Adikku? Apakah dia baik-baik saja selama kepergianku? Aku sama sekali tidak tahu apapun mengenai kondisinya selama 1 tahun terakhir."tanya Seokjin lagi.
Tuan Choi, Supir tersebut terdiam. Ia tak dapat menjawab pertanyaan dari Seokjin mengenai kondisi Adiknya, Taehyung.
"Tuan Choi?"
"Sebentar lagi kita akan sampai, Tuan Muda. Tuan dan Nyonya pasti sudah menunggu kepulangan Anda."ujar Tuan Choi, ia berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Seokjin mengerutkan keningnya, ia sadar jika Tuan Choi mencoba untuk menghindar dan tak ingin menjawab pertanyaannya. Tetapi, Seokjin tak ingin memperpanjang lagi, toh nanti ia juga akan bertemu langsung dengan Adiknya.
"Ah Baiklah."
~~~~
Mobil yang ditumpangi oleh Seokjin pun akhirnya tiba di kediamannya. Ia sangat antusias untuk bertemu dengan keluarganya, hingga terburu-buru keluar dari mobil sebelum pintu mobilnya dibuka oleh sang Supir.
Seokjin segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama kediamannya.
Seokjin mengetuk pintu tersebut dan dengan sabar menunggu seseorang membukakannya.
Ceklek-!
Pintu itu pun perlahan terbuka dan tampaklah seorang Wanita paruh baya yang sangat Seokjin rindukan.
"Ibu!"serunya.
Taehee sangat terkejut setelah memgetahui siapa orang yang telah mengetuk pintu kediamannya.
"Seokjin?!" Ia langsung memeluk Putra Sulungnya dengan erat untuk melepas rasa rindu yang ditahan selama setahun terakhir.
"Akhirnya kau pulang, Nak."
"Benar, Ibu! Aku sangat merindukan Ayah, Ibu dan Taehyung!"ujar Seokjin.
Taehee tersenyum lebar, ia mengajak Putranya untuk masuk ke dalam kediaman mereka.
"Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?"
"Ibu dan Ayahmu baik-baik saja, Seokjin. Kami sangat menanti kepulanganmu, Nak."jawab Taehee.
"Syukurlah. Lalu, bagaimana kabar Taehyung? Di mana dia?"tanya Seokjin sembari menatap sekitar untuk mencari keberadaan Adiknya.
Taehee terdiam sejenak dan hal itu membuat Seokjin menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Ibu?"
"Adikmu baik-baik saja. Tapi..." Taehee menggantung ucapannya, membuat Seokjin sedikit kesal.
"Tapi apa, Ibu?"
"Dua bulan yang lalu, kondisi adikmu kurang baik, lalu sikapnya perlahan berubah. Namun, kau tenang saja, kini kondisinya telah membaik seperti sedia kala."ujar Taehee dengan senyum sendu.
Entah mengapa firasat Seokjin mengatakan ada hal yang tidak beres selama kepergiannya. Apakah ada suatu hal buruk yang menimpa adiknya selama dirinya pergi?
"Ibu, apa yang terjadi pada Taehyung?"
Taehee hanya bungkam, ia seperti tak mau bercerita pada Seokjin.
Seokjin memegang tangan Ibunya dan mengusapnya dengan lembut sembari menatap penuh permohonan pada Wanita paruh baya itu.
"Aku mohon beritahu aku, Ibu..."pinta Seokjin.
Taehee menghela napas. Akhirnya, Wanita paruh baya itu memilih untuk menceritakan segalanya pada Putra Sulungnya.
Seokjin sangat-sangat terkejut hingga tubuhnya terasa kaku setelah mendengar seluruh cerita dari Ibunya. Seketika pikirannya menjadi kacau.
"Ja-jadi... di mana Taehyung sekarang?! Di mana dia, Ibu?!"tanya Seokjin menuntut.
"Dia ada di kamarnya."jawab Taehee lemah.
Seokjin segera beranjak dari duduknya dan membuat Taehee ikut berdiri.
"Kau mau ke mana, Seokjin?"
"Aku harus segera menemuinya, Ibu."jawab Seokjin.
"Tidak! Ibu mohon jangan sekarang. Dia pasti akan sangat terguncang melihat kehadiranmu secara tiba-tiba. Ibu tidak mau melihat perubahan dalam sikapnya lagi."
Seokjin menggeleng.
"Tidak, Ibu. Aku harus segera bertemu dan memeriksa kondisi Taehyung. Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan sekarang padamu."ucap Seokjin. Ia langsung melangkah menuju kamar Adiknya.
Saat tiba di depan kamar Taehyung, ia langsung membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Seokjin melihat si Pemilik kamar sedang asik dengan ponsel genggamnya di atas kasur.
Mungkin Taehyung menyadari ada seseorang yang telah membuka pintu kamarnya, ia menoleh ke arah pintu dan matanya mendelik tak percaya.
"Kak Seokjin?!" Remaja laki-laki itu melempar ponselnya ke sembarang arah dan melompat dari kasurnya untuk menghampiri sang Kakak.
"Se-sejak kapan kau kembali?"tanya-nya.
Seokjin tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya bermaksud untuk membiarkan adiknya itu memeluknya. Namun, bukannya menerima sebuah pelukan, Seokjin malah mendapatkan sebuah tatapan tajam dan wajah datar adiknya.
"Tae?"
"Apa?! Apa yang kau tunggu? Kau berharap aku akan memeluk dan menangis haru karena kau sudah kembali?"tanya Taehyung ketus.
Seokjin sedikit terlonjak mendengar lontaran kalimat yang keluar dari mulut adiknya. Hei! Ini bukan Taehyung. Adiknya tidak pernah bersikap kasar padanya.
"Tae, apa yang kau..."
"Kau bahkan tidak ada saat aku merasakan sakit yang begitu dalam. Aku tak bisa menahannya, Kak! Kau seakan melupakan keberadaanku di Korea." Taehyung mencerca Seokjin dengan segala tuduhan yang tidak benar. Ia sudah terlanjur sakit hati, hingga membuatnya tak berpikir dua kali untuk mengucap kalimat-kalimat tersebut.
Seokjin menggeleng tak percaya, perkataan adiknya sungguh keterlaluan.
"Aku tidak pernah mengajarkanmu berkata seperti itu, Kim Taehyung. Kau salah paham, kau menuduhku yang tidak-tidak!!"sanggah Seokjin.
Taehyung tersenyum tipis. Sungguh, Seokjin merasa ada yang aneh dengan adiknya. Ia tak mengerti.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Tae?!"tanya-nya.
"Kau tak perlu bertanya, karena aku sendiri pun tak tahu jawabannya."jawab Taehyung sembari tertawa pelan.
Remaja laki-laki itu terlihat seperti seseorang yang mengidap penyakit gangguan jiwa, bagaimana bisa ia memberikan jawaban kepada Kakaknya dengan nada bicara yang terdengar seperti orang yang frustasi, namun raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan, ia tersenyum bahkan tertawa.
"Tae, kau baik-baik saja bukan belakangan ini?"tanya Seokjin lagi.
Tanpa diduga, tatapan mata Taehyung berubah menjadi tajam, senyum di wajahnya juga menghilang.
"Pergi! Tinggalkan aku sendiri."ujarnya terdengar seperti perintah.
Demi Alam Semesta! Seokjin sama sekali tak bisa memahami situasi saat ini.
"Tae, ada...,"
"Pergi!!"
Tak mau memperburuk keadaan, tanpa basa-basi lagi, Seokjin memutuskan untuk keluar dari kamar adiknya. Ia menutup pintu dengan cukup keras.
BRAK-!!
Disaat yang bersamaan, air mata Taehyung jatuh dengan pandangan matanya yang menatap lurus ke arah pintu.
"Aku masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku."
To Be Continue
HAI GUYS!!!!
AKU KEMBALI SETELAH SEKIAN LAMA!!!
Gimana-gimana??? ada yang kangen ga?!
Jujurly aku kangen banget sama kalian!!!
Maaf banget aku baru bisa up sekarang setelah beberapa waktu yang lalu menghilang tanpa kabar. Aku ada beberapa problem guys, dan juga lagi sibuk banget kemarin. Baru ini ada waktu!!
Ga terasa udah mau lebaran.
Kalau gitu sekalian aja aku mau minta maaf!
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN!!!
Aku harap disisa terakhir puasa ini, kalian masih semangat!
segitu aja deh!!
____________________________________________
"Demi kemurnian Dewi Bulan dan kecantikannya, dan demi kemurnian leluhurku, aku James Lorens, keturunan murni kerajaan Lorens akan menghancurkan kekuatan kegelapan yang telah menghalangi jalan yang besar dalam terang kebenaran dan kedamaian! Demi kemakmuran penduduk tanah Zerebos dan cinta Penguasa yang agung, aku menghancurkan kekuatan kegelapan dengan mempertaruhkan nyawaku."¹
Nah ini arti kalimat yang diucapin sama Jimin pas ngelakuin sesuatu ke Taehyung.
____________________________________________
Semoga kalian suka
jangan lupa tinggalkan jejak ⭐
Publish
28 April 2022
____________________________________________