Untuk para readers tercinta nanti wajib baca Author note di bawah yaa.
Prok...prok...prok...
Suara tepukan tangan itu berbunyi nyaring, menggema di seluruh sudut ruangan yang mendadak hening. Namun, setiap tepukannya bertempo lambat. Bahkan Janice sudah menjatuhkan rahangnya ke bawah dengan mata terhunus ke satu arah. Sementara Odelyn menyatukan alisnya bingung sembari mengedipkan matanya beberapa kali.
Sadar bahwa menjadi pusat perhatian, Alody langsung memalingkan wajah dan buru-buru menghapus air matanya yang sudah terjatuh bebas bahkan sejak bait pertama lagu yang di nyanyikan oleh Odelyn tadi.
Melihat tingkah tak biasa dari Alody, hal pertama yang di lakukan oleh Janice tentu saja adalah tertawa.
"HAHAHAHA, Seorang Alody nangis? Melow juga hati lo, Al. Ahahaha."
Alody menghunus Janice dengan tatapan tajam, namun tak ayal rasa malu mulai menguasai dirinya hingga berhasil menghadirkan rasa panas di pipi. "Diem Lo!" Sentaknya malu.
Janice malah semakin meledeknya. "Lagian gue heran deh, Lo harusnya latihan bareng beryl, bukan malah ikut ke rumah gue buat liat gue sama Odelyn latihan. Kita beda tim, sis."
Alody malah mengibaskan tangannya santai. "Gampang, masih tiga hari lagi ini pensinya."
Janice langsung mencibir mendengar reaksi itu.
Sedangkan Odelyn hanya geleng-geleng seraya bersedekap dada. "Ngeliat reaksi Lo tadi, berarti suara gue nggak jelek-jelek amat kan?"
Alody sudah membuka mulut untuk menjawab ucapan Odelyn, namun Janice tiba-tiba menyerobotnya.
"Bagussss, luar biasaa, mantap, yes!" Ucapnya sembari mengacungkan kedua jempolnya.
Mendengar ucapan Janice yang berlebihan seperti itu, Odelyn malah tidak percaya. "Gue serius." Katanya datar.
"Serius, Lyn. Suara lo merdu dan nyatu banget sama alunan piano gue. Puas banget lah pokoknya sama latihan hari ini. Kalo lo masih nggak percaya, noh tanya aja Alody, buktinya dia nangis kan?" Janice melirik Alody dengan wajah menyebalkan.
Alody berdecak, tak memperdulikan Janice ia menatap Odelyn sepenuhnya. "Very good. Terutama penghayatan lo, bikin yang denger seakan ikut ngerasa relate sama lagunya. Dan bagi gue..." Alody menggantungkan ucapannya sebentar, lalu tersenyum pahit. "Lagu itu emang masuk banget di gue."
Janice mengangguk setuju. "Gue nggak ngira sumpah kalo lo bakal pilih lagu ini buat di tampilin di pensi nanti."
"Emangnya Lo pikir gue bakalan nyanyi lagu kayak gimana?" tanya Odelyn menaikan sebelah alisnya.
"Yang ceria, lagu-lagu happy tentang falling in love?"
Alody mendengus. "Bodoh! Lagu-lagu kayak gitu kurang cocok kalo di satuin sama piano. Udah bener lagu yang di pilih Odelyn, karena vibesnya lebih nyatu sama permainan piano Lo."
Janice nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehe iya juga ya. Tapi nggak salah juga gue mikir gini, barang kali Odelyn mau nyanyi buat gebetan tersayang." Janice menaik turunkan alisnya.
Kening Odelyn berkerut bingung. "Maksud Lo?"
Janice merapatkan bibirnya. Sengaja menahan senyum. "Damon." Ucapnya penuh nada godaan.
Raut wajah Odelyn langsung berubah seketika.
Alody menaikan kedua alisnya melihat itu. "Oh iya, gimana lo sama dia? udah jadian?"
Odelyn mendelik. "Jadian apaan sih? Nggak ada ya!"
Janice geleng-geleng. "Udah ugal-ugalan banget loh Damon ngejar lo, Lyn. Cinta segede itu emangnya nggak keliatan di mata lo?"
Alody mengangguk setuju. "Si Beryl aja di ghosting sama dia demi ngejar Lo. Masa iya lo nggak sadar Damon sesuka itu sama lo?" Kali ini Alody entah mengapa malah ikut-ikutan meledek.
Odelyn menarik napas panjang. Seketika bayangan di taman kota tempo hari dengan Damon, kembali terputar di pikirannya. Namun buru-buru ia tepis.
Odelyn menatap Janice dan Alody secara bergantian. "Gue sadar. Dia juga udah sering confess ke gue."
Janice langsung heboh. "Nah itu tau, terus apalagi yang lo tunggu? Ini Damon loh, Lyn! Damon!"
Odelyn menunduk pelan. Bahunya terlihat turun. "Gue cuma merasa kalo cinta itu bukan prioritas di hidup gue. Gue nggak mikirin ke arah sana dulu. Karena jujur, hidup gue lebih rumit daripada sekedar mikirin cinta." Odelyn menggantung ucapannya sejenak.
"Masih banyak hal di diri gue yang gue sendiri belum bisa ngerti. Kalo gue biarin orang lain masuk ke hidup gue, gue cuman akan ngerugiin dia. Dan gue nggak mau jadi noda di hidup seseorang yang tadinya baik-baik aja sebelum kenal gue."
Penjelasan itu berhasil membuat Janice dan Alody bungkam. Mereka merasakan jika setiap kalimat yang Odelyn ucapkan itu hanya berisi hal-hal yang mungkin terasa berat bagi hidup gadis itu sendiri. Dan mereka kagum bagaimana Odelyn begitu memikirkan hidup orang lain di saat hidupnya sendiri masih berusaha ia raba.
Di tengah percakapan mereka, tubuh Alody tiba-tiba menegang dengan mata terbelalak. "Lyn, Lo mimisan!"
Janice langsung menoleh dan seketika ikut panik. "Ya ampun, Lyn!" Pekiknya.
"Tenang, tenang. Gue cuma butuh tisu." Kata Odelyn sambil menyentuh hidungnya. Cairan berwarna merah itu sebagian sudah meluncur mengotori jari dan bajunya.
Janice si pemilik rumah, berdiri dan segera mencari tisu dengan sedikit panik. Saat benda itu sudah di dapat, ia buru-buru memberikannya pada Odelyn.
Odelyn segera membersihkan darahnya yang cukup banyak di area hidung dan jari.
Alody memperhatikan gadis itu lama, kemudian menghela nafasnya panjang. "Semalam lo nggak tidur lagi?"
Gerakan Odelyn yang mengusap darah seketika terhenti, begitu mendengar pertanyaan Alody. Ia mengangkat wajahnya kemudian menggeleng pelan. "Susah, gue nggak bisa."
"Karena mimpi buruk lagi?" tanya Janice.
Odelyn tidak langsung menjawab pertanyaan Janice, ada jeda yang cukup lama seolah menimbang-nimbang apakah jawaban ini harus ia beritahu atau tidak. Sebab, ini adalah hal yang cukup personal, berkaitan dengan keluarganya. Jika ia menceritakan hal ini, maka Janice dan Alody akan resmi masuk ke hidupnya dan mungkin akan mengetahui hal yang lebih dalam daripada ini. Kecuali satu hal besar yang masih ia simpan rapat.
Akan ia sembunyikan sampai akhir, kecuali jika ia tengah hilang akal.
Namun, sejujurnya ia sudah lelah menanggung semuanya sendiri, sepertinya tidak apa-apa bila ia sedikit terbuka dengan Janice dan Alody, toh mereka berdua sekarang sudah menjadi teman yang membuat dirinya merasa nyaman. Begitu memaklumi jika ia selalu bungkam tentang masalah yang terjadi di hidupnya. Mereka selalu mengerti itu.
Odelyn menghela nafas panjang, seolah setiap cerita yang akan ia ucapkan hanya ada sesuatu yang sangat berantakan di dalamnya. Dan itu bukti nyata bahwa peran figuran yang ia emban, tak menjamin bahwa hidupnya akan terhindar dari masalah yang sialnya tak sepele.
Odelyn menunduk seraya memainkan tisu yang penuh bekas darahnya sendiri. "Selain karena mimpi buruk...ada hal lain yang terus-terusan gue pikirin."
"Kalo Lo berat buat cerita itu, Lo nggak perlu–"
"Gue akan cerita!" Odelyn segera memotong ucapan Alody.
Kedua temannya itu jelas terkejut, namun tak berkomentar apapun seolah sudah siap mendengarkan.
"Gue kepikiran terus sama adik gue." Ucap Odelyn pada akhirnya.
Janice dan Alody saling pandang sesaat. "Lo punya adik, Lyn?" tanya Janice.
Odelyn mengangguk pelan "Adik laki-laki. Satu-satunya, tapi sekarang..." Ada jeda sejenak, ekspresinya berubah redup "dia hilang."
Janice dan Alody terbelalak, mereka terkejut mendengar pernyataan itu. "Hilang?!" Ucap mereka kompak.
Odelyn mengangguk lesu. "Dia kabur, dan sampe sekarang gue nggak tau dia ada dimana." Nada bicaranya getir, mengandung kesedihan yang jelas.
Alody memegang bahu Odelyn. "Lyn, Lo ada fotonya? Kebetulan kakak tiri gue polisi, kita bisa pakai koneksi yang dia punya buat cari adik Lo."
Kali ini Odelyn yang terkejut. Begitupun juga degan Janice karena baru mengetahui jika Alody punya saudara tiri.
Odelyn menggeleng cepat. "Nggak perlu, Al. Gue cuman mau cerita, bukan mau repotin lo."
Alody menatap tegas. "Lyn, lo nggak mungkin bisa nyelesain semua hal sendiri. Seenggaknya biarin gue bantu lo. Mumpung gue punya koneksi, dan nggak semua orang bisa beruntung di tawarin privilege kayak gini."
Janice mengangguk setuju. "Iya, Lyn. Siapa tau dengan ini adik lo bisa cepet ketemu."
Odelyn terdiam. Benar yang di katakan Alody, gadis itu yang menawarkan diri, jadi Odelyn tidak perlu merasa bersalah karena memiliki perasaan bahwa ia jadi memanfaatkan Alody. Toh Odelyn juga sudah memilih jujur tentang ini.
Tatapan Odelyn seperti mulai tumbuh harapan. "Oke. Gue akan kirimin fotonya."
Odelyn langsung membuka ponselnya, lalu membuka Galeri. Setelah itu dia mengirimkan foto Elio yang juga terdapat figur dirinya sendiri, karena foto yang di kirimkan adalah foto berdua dengannya saat menggunakan seragam. Hanya foto Elio yang itu yang ada di galerinya. Ia langsung mengirimkannya pada Alody. Sementara ia sengaja menutup wajahnya sendiri dengan sticker agar fokusnya lebih ke potret Elio.
"Oke, nanti gue akan ngomong sama kakak gue."
Odelyn tersenyum haru. "Thanks."
Sedangkan Alody hanya membalas Odelyn dengan senyum.
Janice yang sedari tadi diam menyimak, kini juga menyentuh bahu Odelyn. "Lyn, jujur hal yang lagi terjadi sama lo itu sangat membahayakan buat diri lo. Pikiran lo nggak berhenti jalan, bahkan saat lo tidur sekalipun. Lo terus menerus mimpi buruk dan akhirnya bikin lo jadi kurang tidur. Dan liat hasilnya sekarang? Lo jadi mimisan, besok-besok takutnya akan lebih dari ini." Ucap Janice panjang lebar, nadanya mengandung kekhawatiran yang jelas.
Alody mengangguk setuju. "Bener yang di bilang Janice. Lo juga pasti nggak mau kan terus-terusan kayak gini?"
Odelyn terdiam, lama. Kedua temannya saja terlihat takut dengan apa yang sedang menimpanya. Karena bagaimana pun masalah yang tengah ia alami itu bukanlah hal yang sepele. Tidak akan hilang begitu saja meski ia sudah menceritakannya kepada orang lain.
Tetap saja Odelyn butuh seseorang yang ahli akan masalah ini. Yang bisa membedah tiap-tiap kacau dan keresahan yang terjadi padanya setiap malam.
Maka dari itu Odelyn memandang Alody dengan tatapan tegas. "Al, psikolog kenalan lo itu..."
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
"Gue pengen ketemu sama dia."
***
Ruangan itu jauh dari ekspetasi yang Odelyn bayangkan. Bahkan sempat membuatnya terdiam lama.
Karena sebelum sampai di sini, bayangan ruangan serba putih dengan dinding dingin pasti akan menyambutnya hingga mungkin akan membuat ia merasa terintimidasi.
Namun, setelah melihat langsung, semua itu langsung buyar detik itu juga. Sebab sangat jauh dari apa yang ia bayangkan.
Ruangan ini jauh lebih hidup.
Tidak sempit, tidak dingin, dan tidak berwarna putih.
Dindingnya di penuhi warna-warna lembut yang memanjakan mata. Beberapa lukisan abstrak tergantung indah di sisi ruangan, sebuah lampu warm bahkan memantul hangat di sebelahnya.
Juga ada rak buku dengan warna-warni yang sukses mencuri perhatiannya begitu ia baru memasuki ruangan ini. Di sempurnakan dengan sofa biru muda yang di sediakan untuknya, terlalu nyaman untuk di sebut sebagai tempat cerita soal hidupnya yang berat.
Odelyn terduduk kaku sambil meremas kedua tangannya sendiri. Sesekali pandangannya mengedar untuk memperhatikan sekelilingnya. Meskipun ruangan ini tidak seperti apa yang ia pikirkan, tetap saja ia merasa gugup.
Wanita di depan Odelyn rupanya memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Psikolog bernama Kayla tersenyum hangat. Penampilannya elegan, dan umurnya seperti berada di awal tiga puluhan.
"Jangan terlalu tegang, santai aja."
Odelyn menoleh, dokter Kayla terlihat melempar senyum padanya.
"Mau minum dulu biar lebih rileks?"
Odelyn tertegun, pertanyaan itu membuat rasa tegangnya sedikit turun. Gadis itu mengangguk pelan. lalu dokter Kayla memberikan sebotol minuman yang masih baru. Gerakannya santai, seolah sudah melakukan ini berkali-kali pada orang yang berbeda.
Saat tenggorokannya terasa lebih segar, Odelyn menyudahi minumnya dan kembali mengangkat wajahnya ke depan.
Gadis itu menarik napas pelan. "Saya bingung mau mulai dari mana."
Dokter Kayla kembali mengulas senyum. "Nggak apa-apa, itu wajar. Orang-orang yang datang kesini juga reaksinya sama kayak kamu. Dan itu normal." Nada bicaranya tenang, tidak sedang menginterogasi.
Dokter Kayla menumpukan kedua tangannya di meja. "Di sini kamu nggak perlu nahan apapun. Bicaralah kalo kamu ngerasa ingin bicara. Apapun yang akan kamu katakan di ruangan ini, saya bukan pihak yang akan menghakimi kamu."
Ada jeda sebentar, sampai dokter Kayla kembali melanjutkan ucapannya. "Saya cuma bantu kamu buat mengerti, tentang apa yang sebenarnya lagi kamu rasain."
Odelyn terdiam, untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Walaupun begitu, atmosfer ketenangan yang menyelimuti mereka tidak berubah.
Dengan satu tarikan napas panjang, Odelyn akhirnya mulai membuka suara. "Kata temen-temen saya...saya keliatan banyak pikiran."
Dokter Kayla menarik kedua sudut bibirnya. "Itu yang mereka bilang?"
Odelyn mengangguk pelan.
"Terus, kamu sendiri merasa setuju nggak sama mereka?" tanyanya lembut.
Odelyn mengangkat wajahnya. Kemudian kembali mengangguk. "Sangat. Saya bingung kenapa pikiran saya nggak pernah berhenti jalan."
Dokter Kayla tidak langsung memotong ucapan Odelyn. Ia mengangguk kecil, memberi tanda bahwa ia mendengarkan.
Odelyn melanjutkan "Karena hal itu...saya jadi susah tidur."
"Sudah berapa lama?"
Odelyn tidak langsung menjawab. Ia diam seperti sedang mengingat sesuatu. "Nggak tau." jawabnya lirih sambil menunduk. "Ini terjadi dari lama."
Dokter Kayla memperhatikan setiap ekspresi yang di keluarkan Odelyn. "Karena pikiran kamu?"
Hening melanda lagi. Tanpa sadar Odelyn menggigit bibirnya sendiri dan perlahan tatapannya berubah sedikit kosong.
"Karena mimpi." Gumamnya.
Pandangan Odelyn beralih pada Dokter Kayla, dengan raut tanpa emosi. "Saya terus-terusan mimpi buruk. Setiap malam, tanpa henti. Karena itu saya susah tidur. Mau tidur aja rasanya capek banget, harus ngelawan pikiran sendiri. Karena itu saya jadi sering sakit kepala, jadi suka mimisan juga."
Odelyn menunduk sedikit, kembali meremas kedua jari jemarinya. "Saya udah periksa ke dokter umum, tapi hal yang saya alami masih terus terjadi walaupun saya udah minum obat tidur sekalipun."
Dokter Kayla diam mendengarkan.
"Hal itu juga jadi mempengaruhi segala aktivitas saya di sekolah. Kata guru dan teman saya, akhir-akhir ini saya jadi sering bolos. Saya bingung apa maksud mereka, karena saya sama sekali nggak pernah ngelakuin itu." Kening Odelyn sedikit berkerut saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Yang saya ingat, saya cuman izin pergi ke toilet abis itu balik lagi ke kelas. Tapi ternyata, saya udah melewati batas waktu buat izin. Dan yang bikin saya kaget sampe nggak percaya...kata temen saya, saya ketiduran di toilet. Dia bisa bilang begitu karena dia nyusulin saya waktu itu, bareng wali kelas kami. Katanya mungkin hal itu juga nggak terjadi sekali."
Mata Odelyn berkedip lambat. "Tapi kenapa...saya nggak ingat hal itu ya dok?" Pandangannya kali ini benar-benar kosong. "Setiap kali saya coba inget momen itu, saya malah merasa jadi kehilangan waktu."
Untuk pertama kalinya ekspresi wajah dokter Kayla berubah serius. Namun ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap tenang. "Kehilangan waktu seperti apa?"
Odelyn terdiam lama. "Kayak..." Keningnya mulai berkerut dalam. Seperti berusaha menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri sulit pahami.
"Saya pikir saya cuma pergi sebentar. Tapi ternyata waktu udah kelewat lama. Sesuai sama yang orang-orang bilang tentang saya." Tatapannya berubah kosong lagi.
"Saya nggak inget saya ketiduran di toilet, saya nggak inget kapan waktu saya mulai mejamin mata, dan saya juga nggak inget kenapa saya bisa sampe tidur."
Dokter Kayla tidak langsung menanggapi. Wanita itu hanya menuliskan sesuatu singkat di bukunya sebelum kembali mengangkat pandangan ke arah Odelyn.
"Odelyn, apa yang kamu rasakan itu bukan hal yang sepele." Nada suaranya tetap tenang. Tidak terdengar menghakimi sedikit pun.
"Tubuh dan pikiran manusia bisa bereaksi macam-macam ketika terlalu lama berada dalam tekanan atau kelelahan emosional."
Odelyn terdiam mendengarkan.
"Kamu bilang akhir-akhir ini sering kurang tidur, mimpi buruk, sakit kepala, bahkan sampai merasa kehilangan waktu." Wanita itu berhenti sebentar. "Hal-hal seperti itu bisa muncul ketika seseorang memendam stres atau beban terlalu lama."
"Jadi saya..." Odelyn meneguk ludahnya. "Aneh dok?"
"Tidak."
Dokter Kayla menjawab begitu cepat. Ia menggeleng kecil. "Kamu bukan aneh. Dan datang kesini bukan berarti kamu lemah."
Wanita itu kembali melanjutkan ucapannya, kali ini tatapannya melunak. "Mungkin selama ini kamu terlalu terbiasa menahan semuanya sendiri, sampai tubuh kamu mulai ikut bicara."
Odelyn tertegun. Entah kenapa ucapan barusan membuat dadanya sesak.
"Kehilangan waktu yang kamu alami juga belum tentu berarti sesuatu yang buruk." lanjutnya hati-hati. "Kadang ketika seseorang terlalu lelah secara mental, otak bisa seperti… memutus beberapa bagian untuk sementara."
Odelyn mengernyit kecil. "Memutus?"
"Seperti bentuk pertahanan." wanita itu menjelaskan perlahan. "Tapi kita nggak akan langsung menyimpulkan apa pun sekarang."
Kalimat terakhir itu sengaja ditekankan.
Seolah ingin membuat Odelyn mengerti kalau dirinya tidak sedang dihakimi atau diberi label apa pun.
Dokter Kayla tersenyum lembut. "Saya cuma ingin kita pelan-pelan memahami apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan."
Bahu Odelyn yang sebetulnya dari awal tegang kini akhirnya luruh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...ia berhasil di dengar tanpa di tuntut untuk terlihat baik-baik saja.
Tolong kepada readers, banyakin vote dan komen yaa.
Mood sedikit turun karena vote dan komen jomplang banget.
Moonbi menghargai buat kalian yang udah kasih komentar semangat buat moonbi tapi bukan berarti komennya jadi sebatas itu doang.
Moonbi pengen kalian tuh spam komen dan ramein setiap paragraf yang udah moonbi ketik.
Karena kan moonbi buat bab itu ya emang buat di komen cerita dan setiap adegannya, kalo nggak ada yang komen berarti moonbi ngerasa gagal dan sia-sia karena nggak berhasil narik minat kalian buat komen adegan tentang cerita ini😞☹️
Jujur dari dua bab sebelumnya komennya lebih ke nyemangatin daripada komentarin tiap adegan atau ceritanya😭
Padahal moonbi update lama alasan terbesarnya karena itu.
Moonbi juga nggak akan mindahin cerita ini ke apk lain, akan ending di Wattpad.
Vote dan komen gratis loh.
Jadi Moonbi minta tolong banget ya
Maaf ya kalo rewel💞
Moonbi cuman kangen komenan rame kayak pas di awal-awal bab😭
See you💗