Rimbaaksan
Tiga ratus lima puluh ribu yen. Itu jumlah uang tunai yang Hinata serahkan untuk meninggalkan pernikahan yang selama ini menyiksanya. Membawa satu koper hitam dan anak laki-lakinya yang masih berusia empat tahun, wanita itu menukar apartemen nyaman di Tokyo dengan ruangan sempit berukuran lima belas meter persegi di pinggiran Saitama. Kini, rutinitasnya adalah menguras tenaga memindahkan puluhan kardus di toko swalayan, membiarkan putranya duduk menahan kantuk di ruang penyimpanan toko yang berdebu demi bertahan hidup.
Di sisi kota yang lain, Naruto mendapati apartemennya gelap dan kosong. Kebohongan finansial yang dia tutupi rapat-rapat serta sikap abainya pada rasa lelah sang istri akhirnya menuntut balasan secara bersamaan. Dalam hitungan hari, pria itu kehilangan pekerjaan, menghabiskan sisa uangnya untuk alkohol, dan terancam diusir dari tempat tinggalnya sendiri akibat tagihan bank yang menumpuk.
Sepucuk surat bermeterai dari Pengadilan Keluarga akhirnya tiba. Dokumen itu memaksa dua manusia yang sudah berpisah jalan ini untuk kembali duduk saling berhadapan di ruang mediasi. Hinata datang membawa tekad keras seorang ibu tunggal, sementara Naruto hadir dengan tangan kosong dan sisa harga diri yang sudah compang-camping. Saat mereka duduk di depan meja hakim nanti, mampukah Naruto membalikkan keadaan, atau justru Hinata yang akan membawa pergi putra mereka, Boruto, untuk selamanya?
Naruto©Masashi Kishimoto