3. Jangan-jangan

12 2 0
                                        

"Lebih baik diam, daripada membalas rasa benci kita ke orang yang gak berminat untuk berdamai sama kita."

******

"Lo ga akan pernah menang, kalau cara yang lo pake itu sampah."

"Dan, cuma pengecut yang pake cara itu." Lanjutnya mendorong bahu Petra dengan satu jari bekas ia mengusap lukanya.

Elang berjalan menjauh, namun beberapa langkah kemudian ia membalikan badan dan kembali berbicara ke Petra. Sementara Petra tengah menahan emosi serta malu.

"Oh iya, gua lupa. Tiga anggota Monoxvo yang lo suruh cegat gua dijalan udah bonyok. Lo bantu gih." Ucap Elang menarik satu sudut bibirnya membentuk seringai.

"Darimana lo tau?" Petra membuka suara.

Pertanyaan itu membuat Elang menghentikan langkahnya. Tanpa menatap wajah Petra ia menjawab pertanyaan itu.

"Mereka pakai jaket sama kaya yang lo dan temen lo pakai sekarang."

Setelah menjawab Elang pergi menjauh dari Petra yang mengutuk dirinya sendiri dan anggota Monoxvo.

Bukan pertama kalinya ia dikalahkan oleh Elang dan Protiger, memang dasarnya Petra tidak pernah ingin kalah oleh Elang. Petra melakukan apapun agar dirinya dipandang lebih baik dari Elang.

Seperti yang baru saja terjadi, Petra tidak akan membiarkan Elang menang balapan kali ini, maka dari itu ia menyuruh tiga anggota Monoxvo untuk menghadang Elang ditengah jalan. Sial, Petra tak tahu jika tiga anggotanya tak mampu melawan Elang yang sendirian. Keahlian beladiri yang Elang miliki memudahkan dirinya melawan tiga orang suruhan Petra.

"Akan gua bales, Lang. Lihat aja nanti." Geram Petra menatap punggung Elang yang semakin menjauh.

Setelah sedikit jauh dari gerombolan Petra, Elang meminta maaf ke anggota protiger lainnya. Hampir saja gara-gara dirinya Protiger tidak bisa membawa kemenangan malam ini.

"Sorry, gua agak telat tadi." Ucap Elang kepada anggota Protiger termasuk empat sahabatnya yang menjadi inti dari Protiger.

"Gapapa kali, Lang. Lagian yang lo lakuin tadi itu keren banget." Ujar Satria diangguki yang lain.

"Kaya biasanya, Petra main licik. Dia suruh anak Monoxvo buat cegat gua dijalan." Jelas Elang ke anggota Protiger lain.

"Ga bisa di diemin, kita harus lawan! Ga terima gua." Sahut Endon disetujui yang lain.

"Jangan." Ujar Erik singkat. Teman-temannya dan anggota Protiger yang lain mengerutkan alis mereka.

"Orang arogan akan semakin melawan kalau dilawan. Lebih baik diam, daripada menunjukan rasa benci kita ke orang yang ga berminat berdamai sama kita." Jelas Erik memberi alasan atas pernyataannya tadi.

"Gua setuju." Elang membenarkan apa yang diucap oleh Erik.

******

Tiga hari sudah berlalu, masa skor yang diberi bu Megan sudah selesai dan Elang memulai kegiatan sekolah seperti biasanya.

Kini Elang dan teman dekatnya sedang duduk santai di kantin sekolah karena jam istirahat sedang berlangsung. Semua siswi menatap mereka dengan tatapan memuja, tidak jarang ada yang tak segan-segan menggoda mereka secara langsung.

Tanpa memperdulikan sekeliling mereka yang dipenuhi oleh perempuan haus belaian, mereka tetap asik menikmati makanan yang mereka pesan sembari mengobrol tentang banyak hal. Contohnya sekarang, membicarakan kucing jantan Satria yang kepergok sedang berduaan dengan kucing betina.

"TEH MIRAA, ES TEHNYA SATU LAGI DONG!" Teriak Endon dari mejanya.

"Samperin kek, jangan teriak-teriak suara lo tuh kaya toa." Saran Jeki ke Endon yang dibalas cengiran.

"Sayang men, mie ayam gua sisa banyak nanti di embat sama lo."

"Dih, gua ga pernah kali embat makanan lo, kalo ngincipin sih pernah." Balas Jeki tak berdosa mengambil potongan bakwan yang berada di mangkok Endon.

Suasana kantin semakin lama bertambah ramai dipenuhi oleh manusia yang kelaparan.

"Kapan ya gua bisa jadi kaya Monyet?" Ucap Satria secara tiba-tiba, ia meletakkan dagu di tangannya.

Mata keempat sahabatnya tertuju ke wajah Satria, lalu mereka tertawa kompak.

"Sat, jadilah diri lo sendiri. Tapi emang mirip kok. Hahaha," Ujar Jeki disela-sela tawanya.

"Ish, bukan gitu maksudnya. Gua tuh iri sama si Monyet, kucing gua. Masa kemarin dia berduaan sama betina, kan gua juga mau punya pacar terus bisa berduaan kaya gitu." Jelas Satria membuat yang lain mengangguk paham.

"Lagian kucing kenapa dinamain Monyet?" Tanya Erik tak mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.

Satria mengangkat bahunya, "Ya ga tau, bagus aja. Lagian dia suka kok dipanggil Monyet." Ucap Satria dengan percaya diri.

"Emang kucing lo bisa ngomong kalau dia suka panggilan itu?" Kini Elang yang berganti memberi pertanyaan.

"Ngga juga sih. Udahlah lupain aja. Eh Jek, bagi nomor cewe yang dikontak lo dong, kan banyak tuh bagi satu sabi lah." Ucap Satria menurun naikkan satu alisnya.

"Aman, men. Gua punya semua nomor cewe tercantik di Aristoteles High School, ntar lo tinggal pilih aja." Ujar Jeki ke Satria.

"Nah ini baru temen gua!" Satria tersenyum lalu merangkul bahu Jeki.

"Oh iya, Lang. Lo ga ada niatan buat deketin cewe AHS? Banyak yang ngantri jadi pacar lo, kalo lo bosen tinggal ganti aja. Simpel." Tanya Jeki memberi tawaran.

"Makasih, tapi gua ga tertarik." Jawab Elang dengan wajah tak tertarik sama sekali.

Endon yang mendengarnya membulatkan mata.

"Jangan-jangan..." Endon menggantungkan perkataannya.

"Jangan-jangan apa?" Tanya Satria penasaran.

Dipojok, Erik yang sedang membaca buku menggelengkan kepala dan menghela nafasnya.

"Huh, mulai dah." Gumam Erik tanpa ada yang mendengarnya, lalu melanjutkan bacaannya.

"JANGAN-JANGAN, ELANG GAY?"

Aktifitas dalam kantin yang sedang dipenuhi oleh siswa dan siswi seketika terhenti dan membeku. Semua orang membulatkan matanya, menatap sumber suara yaitu Endon yang sudah ketar-ketir ditatap tajam oleh Elang.

Sedetik berikutnya Satria dan Jeki membekap mulut Endon dan membawanya untuk duduk. Semua orang saling berbisik satu sama lain, pertanyaan Endon di anggap pernyataan oleh siapapun yang mendengarnya. Pertanyaan yang sama sekali tidak terduga oleh Elang atau yang lain.

"Gua salah ya?" Tanya Endon yang ditatap tajam oleh Elang.

"Iya!" Ucap empat sahabatnya dengan serentak, membuat wajah Endon semakin memucat.

Tamatlah riwayat hidup Endon. Dikepalainya dipenuhi pikiran buruk tentang nasibnya kedepannya.

Apa Elang akan menghabisinya?

Atau memutilasi badannya lalu membuang karung berisi potongan tubuh Endon ke jurang, tanpa ada yang tahu jika itu dirinya?

Sial, dia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.

"Sayang!" Suara teriakan gadis itu tak jauh didekat meja tempat Elang dan temannya saat ini duduk.

- To Be Continued -


aro·gan mempunyai arti sombong, congkak, angkuh, mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Sumber; kbbi.

Note author:

HAI GUYS! Jangan lupa tinggalkan jejak!
Vote and follow kalau kamu suka dengan cerita ini!

Frasa Jingga
16.08.21

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 21, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Delusi Rasa Jingga (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang