[Part 2]

268 40 28
                                        

Halo~

Aku update lagi nih ehehe, maaf kembali meng-ghosting :) selamat membacaa!

Jangan lupa tinggalin jejak di bab ini yak sebagai bentuk dukungan untuk cerita ini. Terima kasih 🙌🏼

⏳⏳⏳


Makasih yaa, Bu. Udah saya bayar lewat QRIS,” kata Kejora sembari menunjukkan layar ponsel ke arah sang penjual. 

“Iya, sami-sami, nèng.” Setelah penjual menyahuti ucapannya, Kejora memasang kembali headset sebelah kanan yang sempat dilepas sebelumnya. Lagu Bertaut yang dibawakan oleh Nadin Amizah menemani Kejora meninggalkan Pakilun FIB yang cukup ramai pada jam makan siang hari ini. Keriuhan di sekelilingnya memang cukup teredam berkat lagu yang mengalun merdu di telinganya. Namun, Kejora masih dapat merasakan ‘kehangatan’ yang terpancar dari obrolan mereka. Kejora pernah merasakan kehangatan itu dulu, saat hubungan pertemanannya dengan Dervan belum berakhir. Ia dan Dervan sering membicarakan banyak hal, mulai dari hal-hal sederhana hingga hal-hal serius. Sekarang, semua itu—kehangatan obrolannya bersama Dervan, hanya menjadi kenangan yang terpatri di dalam otaknya. 

Kejora hampir tiba di halte FIB dan merapal doa dalam hati agar angkutan kampus segera sampai. Ia ingin mengelilingi Unpad dengan menaiki beberapa angkutan kampus secara bergantian. Alasannya sederhana, sebatas ingin mencari udara segar sebelum kembali ke asrama, hitung-hitung melepas penat. 

Kejora duduk di bangku halte FIB, lalu menaruh sebotol minuman teh di sisi kanan. Melihat seekor kucing putih-abu di sisi kiri membuat Kejora teringat ada satu stik makanan kucing di dalam tas. Dengan segera, ia mengambil makanan kucing dari dalam tas, kemudian menyobek ujung kemasan secukupnya. Si kucing pun mengeong dan mendekat ke arahnya saat mencium aroma makanan, seolah tahu bahwa makanan itu memang untuknya. 

Selagi kucing itu melahap makanan yang Kejora berikan, tangan kiri Kejora mengusap pelan puncak kepala kucing itu. Senyuman tipis terukir di wajah Kejora karena mengingat dirinya dan Dervan kadang-kadang memberi makan kucing liar. 

“Ini kucingnya berebut anjir, nyebelin banget deh,” kesal Kejora saat melihat beberapa kucing saling berdesakan untuk menjilat makanan yang ia taruh di atas mangkuk plastik. “Perasaan tadi cuma mau ngasih makan si abu, kenapa jadi banyakan gini anjirr?”

Dervan tertawa karena ucapan Kejora. “Pada laper, Ra, kasian. Selagi ada makanannya mah, kasih aja.”

Suara klakson motor membuyarkan lamunan Kejora, bersamaan dengan aroma parfum mint yang menusuk indra penciuman Kejora. Begitu Kejora mendongakkan kepala, kedua manik hazelnya bertemu dengan kedua netra hitam legam milik Raya. Senyuman tipis terukir di wajah Kejora, menyapa Raya. Sudah cukup lama Kejora tidak berbicara empat mata dengan Raya, orang yang sempat Kejora cintai. Terakhir saat kelulusan Sekolah Kaderisasi 2024, sekitar tiga minggu lalu.

“Lagi nunggu Odong?” tanya Raya. 

“Iya,” jawab Kejora.

“Mau bareng aku?” 

Kejora menolak tawaran Raya dengan cara menggelengkan kepala. “Gue mau muterin Unpad pake Odong, Ray.”

Raya mengangkat kedua alis sejenak usai mendengar ucapan Kejora. “Oh, tumben. Biasanya kamu mau cepet-cepet pulang,” balas Raya. 

Helaan napas panjang dilakukan oleh Kejora. “Yaa, lagi pengen aja.”

“Sama aku aja, gimana?” tanya Raya. 

“Ngga usah, nanti ngerepotin,” tolak Kejora untuk kedua kalinya, lalu mengalihkan atensi pada kucing yang masih memakan makanan darinya. Ia tidak ingin merepotkan Raya selagi bisa melakukan sesuatu tanpa merepotkan orang lain. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Timeless Chances (NEW VERSION)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang