[01] Childhood Friends

156 12 0
                                        

Genre : Friendship, drama, school, slice of life, abuse, bullying.
Ship : YooHanKim



HAPPY READING ♥

♪♪♪

Jam menunjukkan pukul lima pagi. Sang mentari mulai mempersembahkan kemilau cahyanya di ufuk timur.

Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun pun terbangun dari tidurnya. Dengan kondisi setengah sadar, ia mengucek matanya sembari berjalan menuju kamar mandi.

Anak itu bernama Kim Dokja, yang berarti "Pembaca" maupun "Anak Tunggal". Nama yang sangat menggambarkan dirinya. Sendirian dihibur oleh tumpukan buku—khususnya novel berjudul Three Ways to Survive the Apocalypse (TWSA).

Sebuah webnovel tidak terkenal yang baru dijumpainya kemarin. Satu-satunya cerita yang berhasil membuatnya merasa hidup kembali. Tak selayu hari-hari sebelumnya.

Mengisahkan seorang Protagonis tampan bak pahatan dewa bernama Yoo Joonghyuk yang bertahan hidup dari "kiamat". Neraka sesungguhnya di dunia nyata. Bangunan-bangunan hancur berantakan, monster-monster yang mengerikan bermunculan, dan mayat-mayat yang berserakan dalam keadaan menyedihkan.

Meskipun demikian, Yoo Joonghyuk tidak pernah menyerah pada situasi apapun. Takkan pernah berpangku tangan pada siapapun.

Ia adalah sosok paling mandiri dan sangat berpegang teguh pada pendiriannya. Sosok yang selalu pantang mundur dan *berani [dibaca: *nekat] menghunuskan pedangnya tanpa pandang bulu.

Kim Dokja memandangi pantulan bayangannya pada cermin besar di hadapan. Seperti biasa. Lesu dan lusuh. Ditambah, guratan lelah karena terjaga semalaman demi membaca TWSA sampai mengisi kepuasan hatinya.

Pandangan Kim Dokja terlihat kosong melompong. Tiada lagi sinar kehidupan di matanya. Bagai bola permata yang terjatuh di kubangan lumpur.

Bila diperhatikan lebih seksama, terdapat beberapa bekas luka yang tersebar hampir di setiap sudut tubuh mungil itu. Bahkan ada yang tampak masih baru dan belum mengering.

Kim Dokja tak mengindahkannya. Ia mengambil handuk putih yang tergantung di dinding sebelah kanan lalu mulai membersihkan diri dengan sangat berhati-hati agar tak mengenai luka yang masih basah.

Selesai mandi, Kim Dokja pun sarapan seadanya di dapur. Ia memasak mie goreng instan dan membuat segelas susu hangat. Simpel tapi cukup untuk mengenyangkan perut kecilnya itu.

Sebelum berangkat, Kim Dokja menyempatkan diri memandangi sebuah potrait pasutri dan balita laki-laki yang digendong keduanya dengan ekspresi bahagia.

Kim Dokja tersenyum kecut. Sudah hampir sebulan ibunya pergi ke luar kota untuk bekerja. Sementara ayahnya—bajingan yang tidak bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Seorang pria pengangguran yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan hingga hutang sana-sini hanya untuk kepentingan pribadi. Sejak setahun yang lalu, ayahnya tak pernah kembali ke rumah—seolah lupa jalan untuk pulang.

Tring~

Dering notifikasi pesan membuyarkan lamunan Kim Dokja. Ia pun membukanya,

IBU

( Selamat pagi kesayangan ibu. Jangan lupa sarapan ya nak. Hati-hati di jalan. Belajar yang rajin. )

( Oh ya. Sepertinya Ibu akan pulang sebentar lagi. Mungkin sekitar Minggu depan. Dokja di rumah baik-baik aja kan? Kalau ada apa-apa bilang ya. )

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 09, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

OUR SPACETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang