Menunggu kepastian?

20 11 0
                                        

Happy reading

.
.
.
.

Perjalanan itu cukup panjang, sekitar dua puluh menit lebih. Angin sore menerpa lembut, jalanan mulai sepi, dan matahari yang perlahan turun membuat bayangan pepohonan tampak memanjang di aspal.

Ara duduk diam di jok belakang, tak berani banyak bergerak. Ia bahkan tidak berani bertanya sepanjang perjalanan. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi suaranya tertahan di tenggorokannya.

Motor Ravano akhirnya mengurangi kecepatan, lalu berhenti pelan.

Ara mendongak.

Pantai.

Hamparan pasir yang luas membentang di depan mereka, angin laut membawa aroma asin yang familiar. Matahari sore hampir tenggelam, menyisakan warna jingga keemasan yang menyelimuti langit.

Ara otomatis mengerjap, tidak menyangka sama sekali.

"Kamu… bawa aku ke pantai?"

Ravano mematikan mesin motor dan turun tanpa menjawab. Ia menaruh helm, menepuk celananya pelan, lalu menoleh singkat ke Ara.

"Turun."

Ara masih bengong beberapa detik. "Aku… kenapa ke sini? Maksudnya kamu mau ngomong apa sampai harus bawa aku sejauh ini?"

Ravano tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan tatapan, lalu berjalan beberapa langkah, kemudian kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. tangan dinginnya terulur, meraih tangan Ara tanpa memberi kesempatan Ara mengelak.

"Rava..."

"Udah. Ikut aja dulu." ucap Ravano pendek, tanpa menoleh.

Ara akhirnya memilih diam. Ia membiarkan Ravano menuntunnya melewati pasir lembut, menuju area batu-batu besar di sisi pantai. Ombak memecah perlahan di kaki batu itu, menyisakan suara yang menenangkan.

Ravano berhenti di sana.

Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu duduk di salah satu batu besar yang menghadap langsung ke laut dan matahari tenggelam. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, membentuk siluet samar di bawah cahaya jingga.

Ara berdiri mematung.

Ia memeluk tasnya erat-erat, masih mencoba mencerna semuanya.

"Ravano… serius. Kenapa kamu bawa aku ke sini?"

Ravano tidak menjawab.

Akhirnya Ara menyerah. Dengan napas yang ia tahan, ia melangkah pelan dan duduk di samping Ravano, menjaga jarak sewajarnya. Kakinya menggantung dari batu, ujung sepatunya hampir menyentuh pasir.

Mereka berdua diam.

Hanya suara ombak dan angin yang berbicara.

Langit berubah lebih oranye, garis matahari perlahan menurun, memantul di permukaan air seperti serpihan emas.

Ara mengalihkan pandangan ke Ravano lagi.

ANORA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang