Salah satu impian terbesar Jevin untuk memenuhi masa mudanya adalah kuliah di kampus terbaik dunia. Saat semua orang mendukungnya, justru sang pacar melarangnya keras. Kala hubungan mereka meregang, rupanya pacar Jevin memiliki pelarian untuk memper...
Hi! Long time no see yaahh, maaf kalau jarang update, rl lagi rewell bgt dari awal tahun ini :(((( But Jevin Aera will always be here for u guys, hehe ^^ ramaikan vote n komen yang banyak untuk energy booster aku!!!
anyway... kalau "Jevin Aera" jadi novel... ada yang mau peluk versi cetaknya ngga yaaa??? 👀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ehm, jadi... sebenarnya ada yang mau kita omongin sama kakak,"
Galio berucap ragu, membuat Aera menatap papanya yang duduk berseberangan. Satu alisnya terangkat, bebarengan dengan sesuap granola yang masuk ke mulut. "Apa, pa? Kok kayak serius banget gitu sih,"
Satu hembusan napas pelan sebelum pria itu berucap. "Papa sama mama perlu ke Bali besok, ada semacam pertemuan bisnis sama banyak partner dari luar negeri."
Aera hanya mengangguk-angguk saja. Bahkan Papanya pernah beberapa kali pulang-pergi ke Malaysia dan Singapura, Bali bukanlah apa-apa. "PP? Atau nginap?" tanyanya.
"Nginap. Mungkin beberapa hari, itu udah ditentuin sama yang bikin acara, juga... bareng sama tante Nela dan om Janu,"
Kali ini Aera tersedak, terbatuk dua kali lalu menatap heran papanya, "Kenapa barengan?"
Galio menyesap sedikit kopi hitamnya, "Yah, papa juga gak nyangka. Ternyata mereka juga dapat invitation. Nah, masalahnya..."
"Bang Arga sama Aron di rumah, 'kan?" Aera menghentikan aktivitas sarapannya, mulai mencecar.
"Itu dia. Seleksi Aron buat sport olympiad itu dipercepat, malah barengan sama event papa, sama-sama di Bali. Aron jadinya gak ada wali buat seleksi, bang Arga harus temenin dia, karena Aron masih di bawah umur,"
Galio mengelus pelan punggung tangan anak perempuannya, mencoba memberi ketenangan. "Kamu... di rumah, ya? Papa sama mama sebenarnya gak tega ninggal kamu, tapi... gimana lagi. Kalau takut, nanti ajak aja Vivi nginep, biar gak sendirian. Udah kelas dua belas, kalau banyak bolos takutnya malah absensi kamu ada masalah,"
Aera cemberut, wajahnya menunduk. Tidak bisa dipungkiri ia kecewa karena akan ditinggal begitu saja sendirian. Tapi kegelisahannya cukup sirna saat Arga mendadak menaruh sebuah kartu debit di sebelah mangkuk cewek itu.