Sang penyelamat (3) end

110 29 22
                                        

      Malam ini Karma menemani gadis itu menginap di rumah sakit. Karma melihat Kiara tertidur di salah satu kursi sofa yang ada di sisi kanan ranjang tempat tidur. Sungguh gadis yang sangat simpel ia tidak butuh alas bantal ataupun selimut sudah bisa tidur selelap itu. 

Melihat gadis itu akhirnya bisa beristirahat dengan lebih tenang entah kenapa membuat Karma merasa lega. ia menatap gadis itu masih dengan ekspresi yang tidak bisa di simpulkan. Ia masih bingung dengan sikapnya sendiri. Ia benci rumah sakit, tapi ia tetap datang kesana. Ia berkali-kali merasa mual tiap kali mencium aroma obat dari rumah sakit, tetapi ia tetap menahannya. Sekarang ia bahkan memakai masker sampai berlapis, apa semuanya karena gadis itu? Sekeras apa pun ia tidak ingin peduli, ia malah semakin ikut campur dengan urusan Kiara.  

Padahal tujuan awalnya kembali adalah mencari orang itu dan membuatnya membayar dosa-dosanya. Mungkin karena selama ini hidup Karma memang terasa tawar tanpa gadis itu jadi saat melihat Kiara ia bisa merasakan kembali sedikit kebahagiaan, setidaknya untuk saat ini saja, sebelum ia menemukan orang itu.

"Pah...jangan tinggalin Ara..." Air bening dari pelupuk mata gadis itu menetes begitu saja, membuat lamunan Karma seketika terhenti.

Karma menghapus jejak kesedihan gadis itu perlahan. Ia kemudian meraih selimut bermotif abstrak yang telah ia ambil dari bagasi mobilnya. Menutupi tubuh Kiara yang semakin malam semakin dingin, yang bisa ia lakukan hanyalah menghela napasnya. Harusnya Om Trisna yang mendengar ini, betapa Kiara gak mau kehilangan salah satu dari mereka. Pikirnya dalam hati.

         Cahaya mentari pagi yang menembus gorden memaksa mata Kiara untuk segera bangun dari tidurnya.  Gadis itu menatap wajah ibunya yang mulai sedikit lebih cerah. Ada kelegaan tersimpan di sudut hatinya, gadis itu tersenyum.  Matanya kembali memperhatikan sekeliling ruangan hingga akhirnya berakhir dengan menemukan secarik kertas dan sebuah termos silver yang berada di atas meja.

Jangan dimakan, buburnya udah dingin.

Kiara hanya tersenyum membacanya, jika dilarang malah membuat gadis itu semakin ingin mencicipinya. Biarin, jarang-jarang makan masakan si Cabe Setan. Kiara segera membongkar isi yang ada di termos silver itu.

**********

       Sepulang sekolah gantian Cha cha yang mengunjungi Kiara. Setelah mendengar kabar dari Karma Cha-cha rasanya tidak bisa duduk diam begitu saja mendengar apa yang menimpa sahabatnya itu.

"Ra inget lo juga jangan lupa jaga kesehatan, biar bisa jaga mama lo, dan jangan lupa besok ada ulangan kimia. jangan lupa tuh dibaca." Cha-cha  bangkit dari duduknya sambil melirik sekilas ke arah kertas fotokopi catatan kimia miliknya.

"Iya, iya bawel. Dah sana pulang lo udah kelamaan bertamu di sini." Kiara mendorong sahabatnya itu paksa.

"Eh gue pamit dulu kali sama mama lo, tante saya pamit pulang ya, cepet sembuh tan."

"Iya makasih ya Cha-cha." Helen hanya tertawa melihat tingkah kedua gadis belia itu.

"Ma aku anter Cha-cha sebentar ya." 

Mamanya mengangguk sambil tersenyum  melihat anak gadisnya  melangkah meninggalkannya. Kiara dan Cha-cha benar-benar mengingatkannya pada dirinya dan Maya saat SMA dulu.

"Ra, padahal tadi gue ngajak Karma bareng kesini, tapi dia bilang katanya dia gak bakal kesini lagi. Lo abis ribut sama dia?" Tanya Cha-cha heran.

"Ah, enggak ah. Ngacok lo. Mungkin aja dia sibuk belajar buat ujian besok, lagian bantuan dia kemaren itu udah cukup nolong gue. Masa gue mau ngerepotin dia terus," Protes Kiara

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 13, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tentang KARMA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang