07 # PANGGUNG RUMPI?

107 40 169
                                        


"L-lo jangan k-kentut atau pipis dicelana, ya."

"Kalau boker boleh dong?" sahut Bima yang saat ini posisinya di atas Varel.

"G-gue banting sekarang juga lo!"

"Hey ... aduh, lo jangan goyang-goyang dong Rel, gue kan cuma bercanda."

Sheli menatap kedua temannya, tembok pembatas, dan Rangga yang saat ini berjongkok secara bergantian. Rangga yang melihat Sheli masih terdiam pun jadi menaikkan alisnya.

"Gue pake rok, Ga. Nggak mungkin kan kalau gue naik ke pundak lo? Biasanya kan kita ke sini ketika ada jam pelajaran olahraga gue pake celana jadi bisa leluasa bergerak tanpa takut. Sedangkan kali ini gue pake rok yang ada nanti kalian kesenengan kalau misalkan rok gue naik." yang dikatakan Sheli benar. Apalagi dia memakai rok di atas lutut sangat tidak aman kalau dia naik ke pundak Rangga.

Tadi yang dibisikkan Rangga ke Sheli adalah ajakan bolos yang awalnya ditolak mentah-mentah oleh Sheli. Namun setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Sheli mau juga diajak bolos oleh Rangga. Mereka tidak hanya berdua, ada Bima dan juga Varel di sini. Di gang kecil sebelah SMA Nusantara.

Kenapa mereka memilih tempat ini untuk bolos? Karena yang pasti di sini itu sepi jadi tidak mungkin ketahuan kalau mereka bolos. Yang kedua dan yang menjadi alasan utama mereka ke sini adalah di sini mereka bisa melihat siswa-siswi SMA Nusantara dari balik pagar pembatas. Kebetulan pagar yang mereka pilih ini berada di koridor menuju kantin. Tempat yang pastinya sering dilalui siswa-siswi SMA Nusantara.

Ketiga, kenapa mereka memilih SMA Nusantara? Karena selain terkenal dengan sekolah favorit, sekolah ini juga dikenal dengan sekolahannya para cogan dan cecan.

"Iya juga," balas Rangga. Dia mengedarkan arah pandangannya. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar Sheli bisa mengintip cogan di dalam tanpa takut roknya naik.

Rangga ada ide. "Hei, kalian berdua! Lanjut nanti ngintipnya mau ikut gue nggak? Gue jamin kalian nyesel kalau nggak ikut gue."

Tanpa pikir panjang Varel berjongkok menurunkan Bima dari pundaknya lantas menghampiri Rangga. Siapa sih yang nggak nurut kalau di iming-imingi kayak gitu?

"Shel, lo tetap disini jangan kemana-mana," pinta Rangga.

"Kalian balik lagi kan?"

Rangga mengangguk. "Motor kita masih di sini nggak mungkin kalau nggak balik lagi," jelas Rangga lantas berjalan memasuki gang lebih dalam disusul kedua temannya.

***

Saat ini di depan mereka sudah ada berbagai barang bekas. Ada ban bekas, sofa usang namun masih layak pakai, balok - balok kayu, dan masih banyak lagi barang bekas yang sebagian besar berbentuk balok yang dibawa mereka menggunakan gerobak. Yang terlihat normal dari banyaknya barang-barang ini hanya tangga alumunium. Sheli juga bingung sebenarnya mau apa ketiga temannya ini.

"Kalian dapat ini semua dari mana? Abang tukang rongsok ya atau di tempat sampah?"

"Big no, ini tuh jerih payah kita minta-minta ke warga yang tinggal di permukiman ujung sana," jelas Bima seraya menyeka keringat di keningnya.

"G-gila nih Rangga ma-malu maluin aja ki-kita tuh pelajar masa disuruh minta-minta barang b-bekas gini." protes si gagap Varel tak terima.

"Jangan banyak protes deh lebih baik kalian bantuin gue," tandas Rangga.

"Bantuin apa lagi?" balas Varel dan Bima kompak. Bagaikan upin ipin yang mengeluh lantaran disuruh-suruh oleh kak Ros.

"Kenapa? Nggak mau?" Rangga menjeda ucapannya. "Oke, mulai sekarang tidak ada lagi traktir-traktiran, nggak boleh lagi nyontek PR gue, nggak--"

AndersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang