secretyy1
Di sebuah sanggar seni bernama GWSM, pertemuan antara Java dan Deswa terasa seperti adegan yang sederhana tapi diam-diam penuh makna. Java, si pemusik yang selalu membawa alat musiknya ke mana-mana, dikenal usil dan nggak bisa diam. Sementara Deswa, pemain gedruk yang penuh semangat di panggung, justru berubah jadi kikuk setiap kali Java ada di dekatnya. Mereka sering latihan bareng, kadang berantem kecil cuma karena hal sepele, tapi selalu berakhir dengan tawa yang nggak bisa ditahan.
Java dengan sifatnya yang kekanak-kanakan nggak pernah bosan godain Deswa. Mulai dari nyembunyiin properti gedruk sampai sengaja main nada aneh biar Deswa kesel. Tapi justru dari keisengan itu, ada perhatian kecil yang nggak bisa disembunyikan. Di sisi lain, Deswa yang gampang salting sering kali cuma bisa diem sambil nahan malu, bahkan kadang nangis kalau godaan Java kelewatan. Tapi anehnya, Deswa nggak pernah benar-benar menjauh. Ada rasa nyaman yang diam-diam bikin dia tetap bertahan di dekat Java.
Hubungan mereka terasa seperti dua bocil yang nggak ngerti apa-apa soal perasaan, tapi tanpa sadar sudah saling punya arti. Nggak ada kata cinta yang diucapkan, nggak ada pengakuan yang jelas, tapi cara mereka saling cari, saling ganggu, dan saling peduli sudah cukup menjelaskan semuanya. Di tengah suara alat musik dan hentakan gedruk di sanggar GWSM, Java dan Deswa tumbuh dalam hubungan yang sederhana, lucu, tapi juga diam-diam hangat.