ArifSaputra7
Aksa tumbuh dalam keluarga yang membuatnya belajar satu hal sejak kecil: mencintai terlalu dalam hanya akan berakhir dengan kehilangan. Ayahnya pergi tanpa pernah benar-benar pamit, dan ibunya memilih diam sebagai cara bertahan hidup. Dari sana Aksa membangun dinding, ia menjadi seseorang yang mampu mengamati banyak hal, tetapi jarang terlibat secara emosional. Ia hidup dengan prinsip sederhana: tidak berharap terlalu tinggi, agar tidak jatuh terlalu sakit.
Nara adalah kebalikannya. Ia percaya bahwa hidup dan cinta harus dijalani dengan keberanian. Ia terbiasa berbicara pada orang asing, tertawa pada hal-hal kecil, dan mempercayai bahwa setiap pertemuan memiliki makna. Namun di balik sikap hangatnya, Nara menyimpan luka lama dari hubungan masa lalu yang berakhir dengan pengkhianatan. Meski percaya pada cinta, ia diam-diam takut dicintai setengah-setengah.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana, tanpa peristiwa besar yang dramatis. Hanya dua orang yang berteduh dari hujan dan berbagi percakapan yang seharusnya biasa saja. Namun percakapan itu membuka ruang ruang di mana Aksa merasa aman untuk diam, dan Nara merasa didengar tanpa harus menjelaskan segalanya. Sejak hari itu, keduanya mulai saling hadir dalam kehidupan satu sama lain, perlahan dan tanpa kesepakatan apa pun. Hubungan mereka tumbuh tanpa label. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji. Hanya kebiasaan berbagi waktu, cerita, dan keheningan.
Novel ini bercerita tentang cinta yang tidak selalu datang di waktu yang tepat, tentang orang-orang yang saling mencintai tetapi harus belajar menjadi utuh terlebih dahulu. "Tentang Kita Dan Waktu" bukan hanya kisah percintaan, melainkan perjalanan dua manusia memahami bahwa mencintai bukan soal bertahan atau pergi, melainkan soal berani memilih dan menerima konsekuensi dari pilihan itu.